Puisi: Fragmen Kekalahan (Karya Ahmadun Yosi Herfanda)

Puisi "Fragmen Kekalahan" karya Ahmadun Yosi Herfanda menggambarkan perasaan kekalahan, kehilangan, dan kebingungan yang dialami oleh seorang ...
Fragmen Kekalahan

Sebagai orang kalah arus
Aku larut dalam kehendak
Tak terencana, menyimpan kata-kata bijak
Membiarkan diri dibantai birahi kota
Meneguk habis ampas peradaban ketiga

Gemerlap lelampu dan tata warna
Membenamkan jiwaku
Sejuta langkah pasti pun larut ke dasar sungai tanpa peta:
Aku ternyata tak punya lagi kartu nama
Kehilangan sejarah, kehilangan Indonesia
Larut jadi ampas diurai unsur-unsur kimia
Tak tahu arah angin, tak tahu letak cakrawala

Sebagai orang kalah arus
Akhirnya aku sampai ke muara
Dengan seluruh tubuh terluka
Dan jiwa terperkosa

(Kembalilah, wahai anak muda
Nadi yang kemarin
yang terluka
masih putih darahnya!)

1982

Analisis Puisi:

Puisi "Fragmen Kekalahan" karya Ahmadun Yosi Herfanda menggambarkan perasaan kekalahan, kehilangan, dan kebingungan yang dialami oleh seorang individu dalam menghadapi kehidupan yang keras dan penuh tekanan.

Perasaan Kekalahan dan Kehancuran: Penyair menyampaikan perasaan kekalahan yang mendalam melalui gambaran kata-kata yang kuat dan gamblang. Bahasa yang digunakan, seperti "larut dalam kehendak," "dibantai birahi kota," dan "terperkosa," menggambarkan kehancuran fisik dan mental yang dialami oleh subjek puisi.

Kehilangan Identitas dan Orientasi: Puisi ini menyoroti kehilangan identitas dan arah hidup. Subjek merasa terhanyut dalam arus kehidupan yang tak terkendali, kehilangan "kartu nama," "sejarah," dan bahkan "Indonesia." Hal ini mencerminkan perasaan kebingungan dan kekosongan yang dialami oleh individu yang merasa terpinggirkan dan terbuang.

Tantangan Kembali pada Kejujuran Diri: Dalam penutup puisi, terdapat panggilan kepada "anak muda" untuk kembali pada kejujuran dan integritas diri. Hal ini mengisyaratkan harapan akan pemulihan dan kembalinya nilai-nilai yang murni dan suci, yang mungkin telah hilang atau terpinggirkan dalam perjalanan hidup.

Gaya Bahasa yang Kuat: Penyair menggunakan bahasa yang kuat dan gambaran yang kuat untuk menyampaikan perasaan kekalahan dan kehancuran. Penggunaan kata-kata seperti "bantai," "terluka," dan "terperkosa" memberikan kesan kekerasan dan keputusasaan yang mendalam.

Pesan dan Refleksi: Puisi ini memberikan pesan tentang pentingnya menghadapi kekalahan dan kehancuran dengan kejujuran dan integritas diri. Meskipun subjek merasa hancur dan terluka, ada panggilan untuk bangkit kembali dan menemukan kembali esensi diri yang sejati.

Puisi "Fragmen Kekalahan" adalah puisi yang menggambarkan perasaan kekalahan, kehilangan identitas, dan kehancuran dalam kehidupan. Dengan menggunakan bahasa yang kuat dan gambaran yang mendalam, penyair berhasil menyampaikan pesan tentang kekuatan dan pentingnya kejujuran dan integritas diri dalam menghadapi tantangan hidup.

Ahmadun Yosi Herfanda
Puisi: Fragmen Kekalahan
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda

Biodata Ahmadun Yosi Herfanda:
  • Ahmadun Yosi Herfanda (kadang ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH) adalah seorang penulis puisi, cerpen, esai, sekaligus berprofesi sebagai jurnalis dan editor berkebangsaan Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Januari 1958.
  • Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai media-media massa, semisal: Horison, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana, dan Ulumul Qur'an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.