Puisi: Aku Datang dari Masa Depan Karya: Toto ST Radik
Aku Datang dari Masa Depan

(1)
Aku datang dari masa depan
menembus gelap rahim seorang ratu
di desa singarajan yang garing
asin dan udik

tidak ada guntur
tidak ada deras hujan
angin pun seperti mati
di rabu subuh bulan juni
tahun 1965 yang tegang

hanya segaris sinar
tegak lurus
di langit utara
sebentar, lalu raib

selamat datang, pangeran

cahaya hijau mengambang
di tengah sawah belakang rumah
di situ ari-ariku ditanam
dekat sebatang kawista tua

yang enggan tumbang
tak hendak tumpas
dan rerantingnya terus menari
dalam gerak pencak
yang sabar

kemudian fajar
semilir angin
derap beribu kuda di kejauhan
juga bait-bait al-barjanzi dan tetabuhan perang

Banten yang lena
nagari yang lelah
rasa sakitmu kelak, pangeran

(2)
seraya mengeja babad 66 pupuh
aku berdiri di punggung kerbau
tegak telanjang, merentang tangan
tengadah menatap pusat matahari

dengan kegembiraan kanak-kanak
aku terjun ke lumpur sawah
menyelam, bergulingan
dan menari pencak

kendang dan terompet dalam batinku
rancak, mencipta gerak
mengembara ke alam ruh
padang maha cahaya

dan lelaki berjubah hijau itu menghentikan
kuda putihnya, tersenyum dan mengangguk
tangannya terulur, seperti memanjang
menyentuh keningku: kesejukan yang kekal

wong agung, o molana!

tetapi ia
tak berkata apa-apa

tetapi di tanganku kini
sebilah keris, wangi

airmataku tumpah
membanjiri sawah
menjelma laut
aku melayang
di antara karang
dan kabut

sawah, laut, langit
beterjunan ke dalam diriku
menyusun bata kalawan kawis
benteng kota yang runtuh
puing yang terserak 300 tahun
sunyi sendiri di tengah sibuk pasar loak

(3)
berdiri di reruntuhan baluwarti
kusaksikan keraton itu terbakar
hangus, rubuh

di langit cahaya berpatahan
kehilangan simpul
dan watu gigilang menggigil
diterkam sepi senja
yang mengulur kelam
dan kemarau sejarah
yang abai nama-nama Tuhan

jaring tenung
adalah kabut: selubung
yang mengepung sayap ruh

 

(4)
Teluh perut, o teluh perut
jiwa membusuk dibelit jembut
teluh syahwat, o teluh syahwat
mematah arah kiblat

padi pun hilang beras
marica hilang pedas
dan cakrawala tumpas

siapakah membangun seraya meruntuhkan?
siapakah tersesat dalam hutan kenangan?

ialah yang alpa ialah yang tak tahu
ialah yang pongah ialah yang dungu

Banten yang uzur
nagari yang lantak
nyanyi pedihmu kelak, pangeran

wong agung, wahai!
kerismu (kerisku sekarang)
menghunus dirinya, mengerang
dan membedah dadaku

(5)
di bawah terik cuaca dan percakapan pandir para cendekia
yang bersilangan di udara yang mengandung percik api
kugali kubur ari-ariku, siang dan malam, menafsir
gemersik bisik dari belukar kering yang tersia

wong agung, o molana!
inilah nyanyianku dan tarian pencakku: sajaksajak
yang kutulis dengan ujung keris
merobek jaring tenung di langit tanahairku

lihatlah, patahan-patahan cahaya
dari enambelas penjuru
meluncur ke jantung hatiku
: simpul yang menghimpun tenaga

dan di atas singgasana
aku menyala
cahaya yang bangkit
dari penderitaan berabad-abad

sudah waktu: membuka kandaga
menyusun aksara
mengolah tembang
kerajaanku yang akan datang.

Singarajan, 1998-1999

======

Catatan:

Ratu:
Gelar yang diberikan kepada perempuan keturunan Sultan Banten dan bangsawan tingkat tinggi. Menurut silsilah keluarga, ibu saya adalah seorang Ratu dan keturunan ketujuh Pangeran Singaraja yang berkuasa di Singarajan, Pontang.  

Pangeran:
Gelar yang diberikan kepada laki-laki keturunan Sultan Banten dan bangsawan tingkat tinggi. Gelar lain adalah Tubagus.

Babad 66 pupuh:
Babad Banten.

Molana:
Maulana. Raja-raja Banten pada mulanya mendapat sebutan Maulana atau Molana, gelar yang biasanya digunakan untuk ulama yang berpengetahuan luas atau ulama sufi, seperti Molana Hasanuddin (1525-1570), Molana Yusuf (1570-1580), dan Molana Muhammad (1580-1596). Gelar Sultan, yang diperoleh dari Sultan Makkah, baru muncul pada Raja Banten keempat, yakni Sultan Abulmafakhir Mahmud Abdul Qadir (1596-1651).

Baluwarti:
Benteng pertahanan.

Watu gigilang:
Kadang disebut juga Watu Gilang, yang berarti “batu yang bercahaya terang”. Batu berbentuk segi empat dan permukannya datar selebar sajadah itu terbuat dari batu andesit. Terletak di depan kompleks Keraton Surasowan di Banten Lama dan dipercaya sebagai tempat pentahbisan sultan-sultan Banten.

Kandaga:
Peti kecil. Pada akhir pupuh 66 Babad Banten, tokoh Sandimaya sebagai penutur menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa sesudah pajaketra (peperangan dengan Belanda di Jakarta pada abad ke-17) tersimpan dalam sebuah peti bersama buku-bukunya tentang mistik, dan jika ada salah seorang anggota keluarga berkehendak mengetahuinya agar membuka peti tersebut (sun simpen ing kandaga, awor lan kitabku sufi, lamon arsa ing benjang den ungkaban).

"Puisi Toto ST Radik"
Puisi: Aku Datang dari Masa Depan
Karya: Toto ST Radik

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Acep Syahril
Loading...

Post A Comment:

0 comments: