Hujan Januari

Kita tidak bisa terlalu optimis, kita bisa sedikit pesimis. Sebab masa lalu tidak sepenuhnya milik kita dan masa depan tidak selalu menunggu kita. Keindahan menunggu kita. Kehancuran menunggu kita. Kehancuran akan menunggu kita, kita tidak bisa menghindarinya. Meskipun kita berlari, kita selalu menyeretnya bersama kita. Hingga terkadang kita tertatih, tapi jangan berhenti... sampai kita menemukan Keindahan. Sebab jika kita berhenti, Kehancuran akan mendekap. Seperti halnya hujan, yang berjuang dengan getir - terkadang melawan petir - menyerahkan keringat pada sinar, hanya untuk melahirkan satu pelangi di ujung hari. Usahanya terkadang tidak berhasil, tapi ia akan mengulang lagi esok nanti. Dan dengan caranya pernah berhasil, ia akan kembali berhasil. (Tidak di sini, tidak di sana: pelangi akan dikenang, hujan akan dilupakan. Sinar bahkan tidak akan diingat sangkut-pautnya, mendung apalagi). Sekarang kita... akankah kita menjadi hujan: menghindari petir, bekerja sama dengan sinar, hingga melahirkan salah satu pelangi terindah, nanti? Walau orang-orang akan lupa bahwa kita pernah menjadi mendung?

16 Januari 2016
"Puisi: Hujan Januari"
Puisi: Hujan Januari
Oleh: Arief Munandar
Loading...

Post A Comment:

0 comments: