AriefSigli

Puisi: Jika Tidak Pernah (Karya A. Munandar)

Jika Tidak Pernah Jika tidak pernah membuka mata kita mungkin akan mengira dunia, gelap semata. Jika tidak pernah membuka hati kita mungkin akan meng…

Puisi: Elegi Nakhoda Harap (Karya A. Munandar)

Elegi Nakhoda Harap Dengan atau tanpa memaksa, aku mungkin akan menyesali. Satu atau dua, atau mungkin tiga tahun lagi. Hanya masalah waktu. Untu…

Puisi: Mari Berjanji (Karya A. Munandar)

Mari Berjanji Mari memulai dengan tidak melukai untuk menguatkan meski sama-sama lemah untuk tetap bertahan walau sama-sama lelah Mari memulai dengan…

Puisi: Sampai Kapan? (Karya A. Munandar)

Sampai Kapan? Sampai kapan kau akan menunggu? Bertahan dengan doa, dengan senyuman pilu. Karena siapa tahu dia juga sedang menunggu. Jadi sa…

Puisi: Memahami Kota (Karya A. Munandar)

Memahami Kota Mengulum duri menghukum hati untuk mengerti. Aku menjadi kota menampung keributan. 2 Juni 2016 An…

Puisi: Terhimpit Ragu (Karya A. Munandar)

Terhimpit Ragu         Kau terhempas dari duniaku atau aku yang terbuang dari duniamu?         Kau terkurung di duniamu atau aku y…

Puisi: Elegi Nostalgia (Karya A. Munandar)

Elegi Nostalgia Apa kau ingat, betapa dulu kau tersesat di mataku? Betapa kau berjanji, tidak akan pernah mengatakan selamat tinggal? Dulu. Apapun ya…

Puisi: Rangkuman Sebuah Foto (Karya A. Munandar)

Rangkuman Sebuah Foto Aku benci mengenangmu. Aku benci memikirkanmu. Karena semua tentangmu membuatku benci dengan hidupku membuatku benci dengan…

Puisi: Memo (Karya A. Munandar)

Memo Adalah aku yang selalu dan masih menyuapi rindu tapi malu menjamu temu. 1 Februari 2020 Analisis Puisi : Puisi "Memo&…

Puisi: Episode Air Mata (Karya A. Munandar)

Episode Air Mata ( 1) Dengan hati dengan hati-hati senja sebagai saksi perasaan sebagai bukti Dua manusia asing bertemu, berb…

Puisi: Sesuatu yang Telah Pergi (Karya A. Munandar)

Sesuatu yang Telah Pergi Sesuatu yang telah pergi Tidak bisa kembali. Berteman kesombongan Berbalut kepals…

Puisi: Menulis Puisi (Karya A. Munandar)

Menulis Puisi Menulis puisi adalah membebaskan diri dari sempitnya menjadi aku: Dengan puisi aku bisa menjadi duri …

Puisi: Peziarah Sepi (Karya A. Munandar)

Peziarah Sepi Hanyalah ingin dan angan yang mendidih sementara kerinduan menyembelih pelan-pelan. Termangu lantaran cinta sudah sepekan mengangkat be…

Puisi: Mengenyam Senja Silam (Karya A. Munandar)

Mengenyam Senja Silam Dalam derap langkah-langkah hilang harap kau menyeka air mata, menyeka duka Sepintas lalu mengingat …

Puisi: Kekalahan yang Menang (Karya A. Munandar)

Kekalahan yang Menang (I) Malam larut, terlanjur kita mengubur nasib berwajah aib. Sepakat dengan derajat, martabat, keha…

Puisi: Lemari (Karya A. Munandar)

Lemari         Lain kali, akan kuperlihatkan padamu bahwa satu-satunya yang rapi di lemari: hanya cintaku padamu. 29 September 2020 Analisis Puisi : …

Puisi: Inikah yang Kau Tunggu? (Karya A. Munandar)

Inikah yang Kau Tunggu? Kabar gembira untuk musuh Wajahmu tak mau berseri Dengan kisah yang enggan kembali. …

Puisi: Mawar (Karya A. Munandar)

Mawar Tumbuh, luruh, jatuh, ... Kenang aku sebagai mawar         mekar, hanya sebentar. 1 Februari 2020 Analisis Puisi : Puis…
© Sepenuhnya. All rights reserved.