Manifesto

Aku tuntut kalian
ke pengadilan, tanpa pihak yang menghakimi
siapa tahu, suap-menyuap  telah meluas menjulang
sampai ke Hakim Tertinggi
Siapa jamin, ia tak berpihak sejak semula
karena dunia, semesta, pria yang punya

Sejak saat itu – sejak Hawa jadi Bunda
Ah, sudah lama sebelumnya
kecut hatimu menyaksikan kebesarannya
Induk Agung, yang melejitkan turunan
makhluk-makhluk kecil, buta, telanjang –
putus digigitnya tali pusar, dijilat bersih
disusukan saksama, kemudian
dijajarkan di seantero jagad raya
begitulah mamalia dipersiapkan
bagi Darwin dengan pertarungan hidupnya

Perkara kecil membelenggu wanita dengan
tetek bengek yang malah disyukuri olehnya
secara serius, dungu dan syahdu –
Sementara itu – karena memang kerdil, takabur
dalam kelicikan – kau menggigil kekhawatiran
lalu
tanda jasa – status ayah – kau sematkan di dada
tanpa ditunjang fakta biologis barangkali
tidak apa, demi warisan, ego dan
kelangsungan evolusi

Kemudian kau dekritkan: wanita itu pangkal dosa
sebungkah daging, segumpal emosi
sekaligus imbesil dan bidadari
dilipat jari kaki, dikunci pangkal paha
dicadari, gerak-gerik dibebani menjadi
tali lemah gemulai
Ia tertunduk karena salah, gentar, patuh
mengecam diri
Dan akhirnya boleh juga, ia dimanja
sekali-kali

Lalu seperti anak-anak keranjingan, bukankah
bahaya dan pengganggu telah disingkirkan
Kau sibukkan diri dengan permainan:
sepak bola, biliar, gulat dan perang jihad
ilmu, teknologi karena bebas kreatif
perang, polusi, proton, neutron
Pingping antara Moskow, Peking dan Washington

Gemetar tak sabar, ingin perang-perangan
sementara menunggu saat saling memusnahkan
laut dikuras, sungai-danau diracuni
lapisan ozon digerogoti, sampah konsumen
ke mana dibuang – percuma,
itu urusan para antariksawan
Bumi ini kue enersi yang halal dibagi-bagi
pada pesta ulang tahun, dengan lilin yang nyala
– sumbu bencana –
Lalu menyanyi panjang usianya
memang, upacara memberi khidmat, seperti
diplomasi, jadi sandi-sandi
yang semakin sulut untuk dipahami

Kepada anak-anak ini
berbaju seragam, bertanda bintang, berjubah hitam
dengan wejangan, retorik, agitasi
Telah kita percayakan nasib bumi

Makhluk-makhluk kerdil, diburu kecemasan kastrasi
hanya kenal satu bencana riil: impotensi
membusungkan dada lewat psikoanalisa, karena
solidaritas mafia dengan Bapa di Sorga
Akhirnya merestui emansipasi wanita

Aku tuntut kalian
sekali lagi, – saatnya mungkin terlambat sudah
perang telah berkecamuk, ekosistem telah buyar
pengungsi di mana-mana, menipu, lapar, terkapar
dan diplomasi jadi lawakan, yang sungguh
tak lucu lagi
Sementara
kami telah diam cukup lama, berkorban demi
egomu dan sekian banyak abstraksi
Apa wanita kini harus selamatkan dunia
tiba-tiba pembangunan jadi urusan kami juga!

Kalian telah kehilangan gengsi
seperti badut yang tunggang langgang lari
dalam bencana akhirnya panggil ibu juga
tapi – demi anakku laki-laki,
tuntutan aku aku tarik kembali
Dan jadi pengkhianat – atau –
memang karena sudah terlambat

September, 1980
"Puisi Toeti Heraty"
PuisiManifesto
Karya: Toeti Heraty

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post A Comment:

0 comments: