Belajar dari Nasib

Seperti itulah kita, seandainya meneruskan percintaan
di sudut sana: bertahun-tahun didera hujan, terik,
juga ketakutan. Bertahun-tahun pula kita melihat ribuan anak
menjadi yatim atau kehilangan saudara kandung
ditelan seribu serigala. Dan mereka hanya bisa menangis,
cuma menangis
sekedar mengusir rasa sakit, atau melukiskan semua itu
menjadi nasib yang telah ditulis di setiap telapak tangan.

Seperti itulah, mereka kini: hidup di pengungsian,
belajar dari rasa takut, dan akhirnya mereka pun jadi biasa
hidup tak lagi penting untuk diberi makna, apalagi dipolesi
dengan segala macam ornamen orang kota, yang sibuk,
dan seluruh waktunya habis untuk memikirkan nasibnya sendiri.

Jakarta, 5 Juli 2000
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Belajar dari Nasib
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Bebas Judul Sahabat
Loading...

Post A Comment:

0 comments: