Puisi Mustafa Ismail

Puisi: Ruang Vakum (Karya Mustafa Ismail)

Ruang Vakum (- kepada penyair Aceh) Kita tulis lagi kata-kata itu, pahit dan bercela, di malam yang sakit: se…

Puisi: Lhokseumawe (Karya Mustafa Ismail)

Lhokseumawe Kota itu masih menyimpan rasa sakit hidup yang beku: harapan-harapan mengental dalam genggaman orang lewat pada sebuah malam ya…

Puisi: Jakarta Hujan (Karya Mustafa Ismail)

Jakarta Hujan Biarkan jemuran bermain hujan janganlah kau mengkhawatirkan kesehatannya secara berlebihan. Analisis Puisi : Puisi "Jakart…

Puisi: Cerita Sebuah Sungai (Karya Mustafa Ismail)

Cerita Sebuah Sungai Ada sebuah sungai dalam hatimu, dan kau membiarkan aku berenang di dalamnya, sambil menja…

Puisi: Keretakan (Karya Mustafa Ismail)

Keretakan Musim murka menelungkup meja persahabatan kertas tugas berserakan kemana-mana bergelinding bulu roma senja bercahaya Di laut, ombak…

Puisi: Penari Hujan (Karya Mustafa Ismail)

Penari Hujan Aku penari, katamu, biarkan aku menari sesukaku Kita tak perlu bersumpah menjadi batu Kau pun melompat, dari satu senja …

Puisi: Romantisme Jarak (Karya Mustafa Ismail)

Romantisme Jarak (1) Mestinya kita punya sedikit waktu untuk menceritakan perihal masing-masing angin tak be…

Puisi: Berlari-lari dalam Hujan (Karya Mustafa Ismail)

Berlari-lari dalam Hujan Aku berlari-lari dalam hujan girang dalam masa kanak-kanak menembus arca dan jalan …

Puisi: Memo (Karya Mustafa Ismail)

Memo Kalau kau memang punya cinta, keratlah bulan dan biarkan aku mendekapnya malam ini terlalu luas buat ku…

Puisi: Banda Aceh (Karya Mustafa Ismail)

Banda Aceh: Obrolan Suatu ketika, entah kapan, kita mulai lagi sebuah obrolan Sekedar melepas kangen, atau men…

Puisi: Berteriak di Jalanan (Karya Mustafa Ismail)

Berteriak di Jalanan Ayo, kita tanam singkong dan ketela di jalanan ini sambil membagikan poster-poster atau meneriakkan pamflet-pamflet. Set…

Puisi: Alue Naga (Karya Mustafa Ismail)

Alue Naga Di jembatan Lamnyong kulihat matahari sudah condong ke barat kau masih saja berpura-pura. Bermain d…

Puisi: Kepada Penyair Laut (Karya Mustafa Ismail)

Kepada Penyair Laut dalam gigil pagi itu, di sebuah mesjid, kami membayangkan: beribu-ribu puisi telah menetes…

Puisi: Hujan Sudut Kota (Karya Mustafa Ismail)

Hujan Sudut Kota Aku kehujanan, tiada payung kota bagai puisi yang menetesi kata demi kata dan kau dengan setia memungutnya tanpa malu-ma…

Puisi: Kenangan Hujan (Karya Mustafa Ismail)

Kenangan Hujan Hujan kembali mengucur menari di atas rambutmu mengirim kenangan dari masa lalu, dari kesun…
© Sepenuhnya. All rights reserved.