Di sini Sepi Lebih Berduri

Yang berdiri di persimpangan jalan. itulah aku
malin namaku
lelaki yang telah pulang
di batas-batas kota mimpi kutinggalkan. tak ada airmata
selain bungkus rindu pada jalan-jalan kecil itu. sisa embun di daun-daun
selebihnya tentu suara azan dari surau tua
telah berbagai kupungut kata-kata. susunan falsafah yang bimbang
setiap kueja sungai-sungai berwarna merah. danau-danau
dan lautan menghampar aneh. darah yang mengalir
tak pernah menjadi puisi
lalu berceceranlah kata demi kata yang kutemu. menjadi luka
yang berkabar tentang ranah. serta rumah gadang yang dirubuhkan

"Ke mana lumbung-lumbung dulu
ke mana padi bergoni-goni diantarkan
ke mana kopi, lada, dan kayu manis
ke mana gadis-gadis yang malu di balik jendela?"

Berdiri aku di halaman. batang-batang tak lagi ada
malin namaku
lelaki yang diserbu perih
waktu yang kupinjam. perjalanan yang telah kulunasi
pelan-pelan menghunjam rabu. menjalar menuju sawah dan pematang
tanah yang tergadai
kurindukan kampung halaman hingga angan-angan kulepaskan
kutinggalkan seluruh macam percintaan
tapi di sini sepi lebih berduri. segala telah dibangun untuk diri sendiri
lalu senja yang susut perlahan. awan-awan berarak murung
di sepanjang jalan kulihat ibu-ibu
merenda airmata

Yang berdiri di puing rumah gadang. itulah aku
malin namaku
lelaki yang kecewa.

Puisi: Di sini Sepi Lebih Berduri
Puisi: Di sini Sepi Lebih Berduri
Karya: Iyut Fitra

Baca juga: Kumpulan Puisi Ibu

Post A Comment:

0 comments: