Lilin

Setelah berhitung malam, lilin itu kini tinggal kejap
kita saling menyerahkan waktu. pada malam yang jauh
kauceritakan perjalanan dari kaki bukit. Sebuncah gigil
yang kauusung dari baris-baris kesah. “Aku pernah
menunggu. Tapi setelah pertemuan, ucap kata kautinggal
hanya membenih menjadi kobar tak termaknakan!”
Kemudian kita lukis liuk cahaya ke dalam gamang
yang tiba-tiba berhamburan menyerbu kelam
“Lihat, tetes itu kini menjelma sungai. Seribu gelisah 
berlarian ke rabu hulu. memecah kata di muara”

Lalu gelap. Lilin itu menelan lelehnya sendiri
pada garis kesunyian ini setelah kaukembali ke bukit
tempat cinta sempurna kauserahkan. aku menjalin-jalin
gigil dengan puisi yang gagap. bahwa waktu yang
kauserahkan telah meledak malam ini. Bila kaudatang
kembali, cahaya di sini benar-benar telah mati.

“Lilin itu, ada sesuatu yang menghadang kita tak bisa
untuk menggambarnya” Kemudian kudengar kabar
di bukit itu gigilmu menjalar menjadi kata yang ngilu.

Puisi: Lilin
Puisi: Lilin
Karya: Iyut Fitra

Baca juga: Kumpulan Puisi Ibu

Post A Comment:

0 comments: