Puisi: Menunggu Pengantar Surat Karya: Iyut Fitra
Menunggu Pengantar Surat

Lama tak kaukirim seulas tawa ke berandaku. Selain cawan penuh airmata tentang rumahmu di pinggir jalan dan cuaca yang sesak. Selalu kauisakkan rindu kanak-kanak yang menggelantung di susu ibu yang dusun. Burung-burung pulang senja dan kau berbagi kisah dengan lembah tentang seorang putri “Setiap hari, setiap saat darah seolah menjilati tangga rumah. Rinduku penuh untuk pulang!” Keluhmu di sebuah stasiun pertemuan kita. Rambutmu tak lagi panjang tapi kenangan kecil ketika aku mencium jemarimu masih tersimpan matamu yang kini tawar seolah tak membiarkan jarum jam merampas waktu.

Sejak itulah. Tiba-tiba aku ingin jadi pintu yang menunggu sepucuk surat. Berharap ada kabar dari buruh-buruh tua di stasiun bahwa kau melintas dengan sebuah jinjingan, barangkali sedikit oleh-oleh bagi penantianku, dan berkata “Rumahku telah terbakar. Adakah mimpi kutinggal di dusun ini juga sudah hangus?” Kubayangkan orang-orang berlarian dengan bendera-bendera dan teriakan berharap di antara perempuan-perempuan bertangisan pilu itu kau tak ada tapi jam demi jam kian tajam. Matahari melepuh waktu jadi tua. Pengantar surat itu tak pernah datang.

Payakumbuh, November 2008
Puisi: Menunggu Pengantar Surat
Puisi: Menunggu Pengantar Surat
Karya: Iyut Fitra

Baca juga: Kumpulan Puisi Ibu
Loading...

Post A Comment:

0 comments: