Puisi: Tamasya (Karya Soni Farid Maulana) Tamasya - untuk Rendra di pantai laut merah di tepi kota Jeddah tak kutemukan jejak musa selain deretan cafe dan wajah para pelancong yang lelah yang…
Puisi: Di Sisi Perigi Rumah Cut Nyak Dhien (Karya Damiri Mahmud) Di Sisi Perigi Rumah Cut Nyak Dhien cut aku menatap perigimu tak pernah kering dan surut seutas tali dan timba nyauk tetes airmu sejuk dan lembut cut…
Puisi: Cukup Sekali Berair Mata (Karya Anjani Kanastren) Cukup Sekali Berair Mata Langit serasa runtuh Ketika kau katakan tak ada lagi cinta untukku Aku bersabar diri Tak ada yang abadi di sini …
Puisi: Ma'hadku Karangmangu (Karya Raedu Basha) Ma'hadku Karangmangu Walau hari-hari tak berhujan, tuan Pekarangan ini bertanah basah, terbasuh keringat juang Mengiringi kembali doa-doa…
Puisi: Malam Ini, Aku Kembali Mengingatmu (Karya Agit Yogi Subandi) Malam Ini, Aku Kembali Mengingatmu (1) Malam ini aku mengingatmu di antara kantuk dan terjaga. dari menit ke menit, jam ke jam engkau datang d…
Puisi: Januari Penghabisan (Karya Beno Siang Pamungkas) Januari Penghabisan Sengaja kulupakan janji yang kau pahat dari kotamu hampir gila kucumbu kangen dan bosan…
Puisi: Terali Sepi (Karya Esha Tegar Putra) Terali Sepi - episode pertama matamu lesat memantulkan cahaya dari balik tirai kelambu, sedang aku masih sibuk menjaga malam yang sedang…
Puisi: Taharah (Karya Soni Farid Maulana) Taharah sebelum sampai ke Raudhah, ingin kupotong kegelapan di kalbuku: seperti memotong hewan kurban. Hati yang karam ke dasar malam betapa sulit di…
Puisi: Lorong (Karya Soni Farid Maulana) Lorong aku bercakap dengan bayang-bayang wayang serupa amba. Tabuhan gamelan serupa risik angin di tangkai pohonan. Suara-suara serangga malam terden…
Puisi: Peron Para Pedagang (Karya Badruddin Emce) Peron Para Pedagang bagi S. Ratman Suras Saat itu mentari masih suka sentuhkan hangat murni tujuh pagi! Lepaskan sorak lonjak, jika kereta yang ditun…
Puisi: Perempuan Kedua (Karya Nana Riskhi Susanti) Perempuan Kedua ( Bagi Faisal Kamandobat ) Serupa bulan merawat bumi pelan-pelan sengaja diredupkan dan terbitlah kepedihannya tiap pagi…