Meulaboh
(Kepada Penyair Laut)

Dalam gigil pagi itu, di sebuah masjid, kami membayangkan:
beribu-ribu puisi telah menetas di kota itu, dari Isnu hingga Rosni,
dari dari Mustiar hingga Aliza, hingga entah siapa
kau datang dengan masa silam masing-masing,
membikin laut, kolam, bukit, juga tepi pantai:
berpasang-pasang camar berlahiran dari akar-akar pohon
dan di sebuah kedai kopi pagi itu, semua kesunyian membeku
seperti lelehan getah damar dari pucuk bukit
kita menirukan siulan petani di kampung-kampung
Oh iya, laut. Laut itu, pantai itu, tugu itu, suak ujong kalak itu, pasir itu,
seperti aliran darahmu yang terus mendidih dan menyiram kota-kota
dengan mantra-mantra, dengan doa-doa, dengan suara-suara
aku kira kau harus menjadi Teuku Umar yang menghunus pedang
ke udara, menaklukkan gerombolan harimau dan sirigala,
lalu meledakkannya menjadi kota-kota
dengan begitulah bukit-bukit selalu hijau dan laut tetap berombak
mencatat gelisahmu, galauku, juga kepedihan mereka:
petani dan nelayan yang tak henti berlari dan merawat ingatan.


Meulaboh-Depok, 2016
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Meulaboh
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Bebas dengan Tema Remaja
Loading...

Post A Comment:

0 comments: