Perempuan itu menulis Puisinya
(Kepada Perempuan)

Perempuan itu menulis puisinya,

pada sebuah lagu kutitip makna syair, nada dan irama yang sempurna

tentang perempuan yang meninggalkan tangisan
pada petapeta sajak di tubuhnya yang sunyi
serupa petualang yang memahat cinta hingga berlabuh di dermaga
Lalu memutuskan pulang dari perjalanan yang panjang

Perempuan itu menulis puisi,

Hidup ini ada di bawah kaki yang berdiri tegak di atas batu dingin
mengikuti jalan angin

Serupa lukisan abstrak yang bermakna besar
Serupa syair-syair cinta yang tak tertebak
Dari seorang penyair yang melagukan puisi rayuan semerbak mawar

cericit burung melempar ribuan tanya pada belukar

Berapa banyak anak-anak lagikah akan lahir dari persetubuhan alam?
Berapa banyak perempuan lagikah yang akan lahir dari rahim puisi-puisi cinta?
atau wajah penuh amarah yang akan lahir dari percikan api di langit malam?

tapi bukankah kita terlahir untuk dan karena sebuah alasan
bahwa hidup serupa jalan di lorong-lorong waktu yang gulita
dan membaca kata di panggung kosong tanpa suara

Perempuan itu menghentikan puisinya,

Ah aku melangkah menghitung detik yang menimbun luka tanpa kata
tak perlu lagi ada tanya tentang berapa, apa dan bagaimana
hingga waktu bertanya dalam bahasanya, sampai di manakah perahu akan berlayar?
memecah rindu-rindu menuju jalan kembali pada tanah asal.

Maret, 2011
Puisi: Perempuan itu menulis Puisinya
Puisi: Perempuan itu menulis Puisinya
Karya: Rini Intama

Baca juga: Kumpulan Puisi Jatuh Cinta

Post A Comment:

0 comments: