Sendiri
(: Situ Gintung)

Kekasih, telah berapa kurun kalender terlelap di rumahmu
siang malam berpiuhan. Kota dan jelaga tampak sama
burung-burung itu. Dan zikir atau liukan bergelimang gigil
dalam tarian. Sembah sujud pura-puramu
ada rimbun mimpi lesat. Ada tawa lengking berarak sesat
seolah-olah sorga telah kau usung menuju ranjang. Malam
para pengantin. “Jangan jamah dengan desah, jangan sentuh
simbah peluh. Di sini persetubuhan akan berlangsung lama!”
Lalu kulipat dekap pernah kaupesan. Bahwa sesungguhnya
telah kautinggalkan aku dalam sendiri ini.

Kekasih, kaudengar gemuruh subuh
kukirimkan pusar angin gusar dari rindu-rindu jemuku
juga setimba air buat percintaan kita yang gersang. Kelak
bila kaurasa sendiri ini, bukankah airmata tak perlu lagi
dan burung-burung. Dan jelaga-jelaga membungkus kota
aku telah memesan waktu. Tempat para pengantin akan
menangis. “Aku terluka! Aku terluka!” Rintih yang pedih
tapi tak akan pernah kaulihat aku berangkat. Sebagaimana
tarian dan sembah sujud pura-puramu. Aku pun berlalu
membawa mimpimu yang terlambat.

Kekasih, kau akan sendiri, akan sendiri!

Payakumbuh, April 2009
Puisi: Sendiri
Puisi: Sendiri
Karya: Iyut Fitra

Baca juga: Kumpulan Puisi Ibu

Post A Comment:

0 comments: