Layang-layang dalam Hujan
(- cerita buat Sefa dan Hilli)

hujan, kata nenek, sungguhnya keringat malaikat
lantaran rajinnya jadi kurir harapan-harapan
sampai dewasa pun aku kerap dipukaunya
ada ruang dari hati yang menempuruk sampah
akan hari yang menjelang
ada sebuah belati dari masasilam yang mencacah
buku harian yang tertulis:
piatu, yang layang-layangnya putus
ia mengejar, sampai tersesat di sebuah kota
dan tersangkut pohon beringin
tapi sulit buat memanjatnya, ia cuma di bawahnya
sampai tahun datang tahun pergi

hujan, kata nenek, sungguhnya keringat malaikat
meski piatu pun ia masih melantunkan
”ya, nabi salam alaika, ya, rasul salam alaika
ya, habib salam alaika, shalawatullaah alaika”
maka layang-layang masakecil itu kembali
sekalipun telah tak berbentuk
ia yang selama berharap cemas berdebu
mendadak dimandikan hujan
apa kelak ia cahaya semacam keringat malaikat
yang melantunkan shalawat

ia tak mungkin kembali ke padang rumput
yang memang telah tak ada
suatu pagi, si piatu mimpi menjadi penyair
ditulisnya kisah pengembaraan dusun ke kota
orang membacanya menangis sampai banjir
tapi, hujan sungguhnya lama tak turun lagi
darimana sungai jika tak dari matanya
yang bersama para jelata menangisi hanyut rumahnya
ia masih di pinggiran sungai, ia masih menangis
”layang-layangku, entah di mana”

1996
Puisi: Layang-layang dalam Hujan
Puisi: Layang-layang dalam Hujan
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi Malam

Post A Comment:

0 comments: