Puisi: Rindu Airmata Karya: Abdul Wachid B. S.
Rindu Airmata

Manis purnama yang kaukata dulu, Ibu
kini ngucurkan darahnya ke rongga dada
Jantung yang dihidupi
atau justru menghitam disebabkan
embun pagi lama tak kicaukan prenjak
”Kabar akhir, kakek pulang abadi”

Bukan salahmu, Ibu, jika airmata yang
kau suguhkan dalam gelas, kutumpahkan
Sekalipun bahasa sayang melukis senyum
Itu menjadikan aku terkapar, terserap
lorong yang bernama kota
Berteriak-teriak. Meninju-ninju dindingnya
Sembari menenggak
airmata sendiri berserbuk racun!

Kurindu airmata disebabkan asap trotoar
Segala air kasihmu, Ibu, ditimbun kubur
Mengisyaratkan
Yang paham geliat embun
mengerti bahasamu.

1996
Puisi: Rindu Airmata
Puisi: Rindu Airmata
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi Kesendirianku

Post A Comment:

0 comments: