Di Balik Kabut
(- notasi dua)

Cuaca pagi buruk sekali
"Tapi, kita masih bercinta bukan?" bisikmu
Sehabis segala saling dilengkapkan semalaman
Pada bantal-bantal bau, tubuh hampir blacu
Kita berdekapan lagi, menukar lilitan lidah pahit
Sedang pikiran memenuhi halaman, ditumbuhi ilalang
Tetangga beromong dalam mulut konsumerisme
Sedang airmata kita jadikan mutiara

Udara di dalam dan di luar bergetar
Seekor kelelawar menabrak bola lampu
Sekarang kurasakan pelukanmu makin mengeras
Dalam kedalaman tiada terwatas
Melupakan kematian yang tertunda
Menolak kuasa tangan berhala dan putusasa
Air menggelegak di gelas yang ini tumpah lagi
Aromanya menyegarkan, dan senafsu pengantin dulu

Siti, barangkali ini bukan sajak kita yang bersih
Anak-anak akan lahir tanpa tangisan
Di sungsumku juga rahimmu celurit kemelaratan itu
Terus saja mendekam dalam ancaman
Seperti bengisnya Israel di Jalur Gaza.
Kita terus tumbuh dari sunyi yang sama
Lalu menahan debu dan teror sekitar bersama-sama
Percintaan kita kian mekar dan bau tanah dan kabut.

1993
Puisi: Di Balik Kabut
Puisi: Di Balik Kabut
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi untuk Kakak Kelas Cowok

Post A Comment:

0 comments: