Ode untuk Penyair

Lelaki hitam itu
Lagi di pintu senjahari. Badannya mengeras
Menambah kemarau ranggas
Kayak dulu. Wajah gagu
Tapi mulut karatan itu toh berkata juga
“Rambut janggut kemlaratan ini
Tak kunjung terawat
Seperti sajak-sajak, kusisir nasib!”

Tapi kayak dulu, yang gagu justru kami
Badan keras itu di mata tinggal sepenggal
Syair lagu melankolis
Seperti tomat yang diiris

Kami mengenalnya di penghujung tahun penuh hujan
Di pintu senjahari, kuyup hujan dan mimpi
Dengan teh hangat dan pisang goreng
Cerita ia pun berhalaman-halaman 
”Kesakitan ini memang kucari
Istri dan anak kukhianati
Gentayangan tak tentu tuju
Mengepalkan tinju pada apa yang kutemu!”

Tapi itu tujuh tahun lalu. Yang gagu justru kami
Kenangan toh tersentak oleh kaing anjing
Berebut tulang. Lelaki itu datang untuk pergi
Ada degup jantungnya. Tapi apa hidupnya berdegup?
Ada sajak terbakar di jantungnya. Tapi apa ia sungguh penyair?

Lelaki hitam, kayak dulu, menghilang di ujung jalan itu
Dan lampu-lampu dan jalan itu menyiapkan terang
Barangkali di dadanya ada kota terakhir
Semoga

1997
Puisi: Ode untuk Penyair
Puisi: Ode untuk Penyair
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi Malam Sendiri

Post A Comment:

0 comments: