Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Pagi Ini Minus Dua Belas (Karya Maman S. Mahayana)

|
Pagi Ini Minus Dua Belas


Lampu-lampu jalanan sudah dipadamkan
jam tujuh pagi
belum juga datang rembang matahari
segalanya masih gulita
meski suara desau mesin dan decit ban mobil
tak juga henti
merayap dari jalan layang
menyusuri hutan kecil kumpulan pinus
di bawah teras belakang

Gedung-gedung apartemen
membentuk siluet-siluet pegunungan
redup dan suram
seperti pilar-pilar raksasa
yang bertumbuhan di lapangan terbuka

Ada sirene branwir dan raung ambulans
memecah keheningan
klakson sekali-sekali

Jam delapan rembang mulai datang
perlahan dan nyalang
gas pemanas di bawah lantai
menggerakkan kehangatan
kopi masih mengepul
ketela kecil-kecil
diiris tipis-tipis
bergemerongseng di penggorengan

Setelah lewat jam setengah sembilan
matahari lebih tenang dan percaya diri
menerabas kaca jendela
melelehkan embun sisa
menciptakan lika-liku alur salju tak keruan

Matahari tumpah sempurna di tempat tidur
membuka selimut
mencabut colokan pemanas kasur
melepas rangkap tiga kaos kaki dan stoking berbulu
menggantungkan switer

Aku tahu
di luar sana masih minus dua belas derajat.


Hwarangdae, 19 Desember 2012

Puisi: Pagi Ini Minus Dua Belas
Puisi: Pagi Ini Minus Dua Belas
Karya: Maman S. Mahayana

Bacaan Menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar