Panorama Permulaan Hujan
(- 20 Mei)

Kami masih disiangi arus cahaya yang 32 tahun padam dalam hari-hari. Melewati jalanan aspal. Tugu. Malioboro. Air di simpang yang bertahun terkubur itu kembali berterjunan, dalam warna pelangi disepuh senjahari. Orang gentayangan. Orang bercinta. Di bawah payung, corong demokrasi. Dan moncong senjata mengarah ke mukaku. Tapi sajak demi sajak melesat ke udara, menjelma api di tengah gerimis.

Sebuah permulaan dari musim hujan yang megah, kebebasan kami tenggak. Mandi pelangi. Dan entah bagaimana baris sajak Rendra itu turut menggemburkan wajah-wajah tanah. Dengan bahasanya, air mengikis kekuasaan batu-batu, yang 32 tahun menyumbat sungai hari kami. Tapi di alun-alun kota kenangan raja-raja hujan mengucurkan doa.

Sebuah permulaan dari musim hujan yang megah. Terpaan arus cahaya gerimis mengetuki kaca-kaca jendela kantor pemerintahan. Orang-orang gentayangan. Orang-orang bercinta. Kami mendengar letusan pertama pohon cendana keramat dari barat. Lalu meluncurlah ladang-ladang, menghamparkan hijau rumputnya. "Oh, Tuhanku....."

Demikianlah cara hujan membangunkan tidur negeri kemarau panjang. Dan ketika arus gerimis menjelma cahaya menaburkan alif-alifnya ke bumi, kami membaca harapan. Kubah masjid kebiruan menambah gagah di hadapan. Panorama yang hanya berakhir ke bilik hati para rumput. Kami. Mensujudkan diri.

1998
Puisi: Panorama Permulaan Hujan
Puisi: Panorama Permulaan Hujan
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi tentang Malam

Post A Comment:

0 comments: