Analisis Puisi:
Puisi "Pesta Politik" karya A. Munandar adalah sebuah penggambaran metaforis tentang politik dan masyarakat, yang digambarkan sebagai sebuah pesta yang menggoda, namun penuh dengan ketidakpastian dan kesunyian.
Metafora Pesta Politik: Pesta politik dalam puisi ini dapat diinterpretasikan sebagai permainan politik di dalam masyarakat. Seperti pesta, politik seringkali menggoda dengan janji-janji manis dan kegembiraan yang semu. Namun, di balik glamor tersebut, terdapat realitas yang tidak selalu menyenangkan.
Senja sebagai Metafora: Senja dalam puisi ini mungkin melambangkan masa transisi atau kegelapan yang menghampiri. Di tengah kegelapan politik dan kesunyian dalam masyarakat, senja masih menggoda dengan pesona keindahannya. Hal ini mungkin menggambarkan bahwa politik seringkali mempermainkan harapan dan impian masyarakat, meskipun di baliknya terdapat ketidakpastian dan ketidakjelasan.
Ketidakpastian dan Kesunyian: Pada akhir puisi, terdapat pernyataan bahwa "kita bukan tuan rumah" dan "kamar tamu sudah penuh". Hal ini bisa diartikan sebagai penolakan terhadap politik yang menggoda namun tidak memberikan solusi atau harapan yang nyata. Politik dianggap sebagai pesta yang penuh dengan kepalsuan dan ketidakpastian, sementara masyarakat seolah tenggelam dalam kesunyian dan kekecewaan.
Kritik terhadap Politik: Puisi ini bisa dianggap sebagai kritik terhadap politik yang korup, tidak jujur, dan tidak mengutamakan kepentingan rakyat. Penyair menunjukkan bahwa meskipun politik seringkali dihiasi dengan kegembiraan dan janji-janji manis, kenyataannya politik tersebut tidak mampu memberikan solusi yang nyata bagi masyarakat.
Dorongan untuk Pulang: Dorongan untuk pulang pada akhir puisi bisa diartikan sebagai ajakan untuk menghindari politik yang mempermainkan dan tidak jujur. Pulang bisa diinterpretasikan sebagai sikap untuk menjauh dari dunia politik yang korup dan mencari solusi atau keadilan di tempat lain.
Puisi "Pesta Politik" karya A. Munandar adalah sebuah penggambaran metaforis tentang politik dan masyarakat yang menggambarkan politik sebagai sebuah pesta yang menggoda namun penuh dengan ketidakpastian dan kesunyian. Melalui metafora yang kuat dan bahasa yang sederhana, penyair mengkritik politik yang korup dan tidak jujur, serta mendorong untuk menjauh dan mencari solusi di tempat lain.
Karya: A. Munandar
