Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Matahari (Karya Arif Bagus Prasetyo)

|
Matahari
(- Uluwatu, upacara)


Bila nanti
matahari telah angslup
dalam darah;
apakah ia akan redup
atau makin parah
menikam jantung?

Dan apabila burung hitam di nadimu
menjerit lirih
seperti setangkai daun yang tak sengaja
terinjak karet sepatumu (sore hari ini):
Apakah yang sesungguhnya
tengah kaumengerti
di sini
selain laut, Maut
dan ketinggian?

Di pucuk tebing, pada puncak keheningannya
Kelak akan kausaksikan orangorang suci membagi
darah, menabur matahari silam yang kian asing dan
kecoklatan (di pelupukmu); yang hampir gaib
tersihir setangkai daun jatuh jadi mantra jadi
cuaca jadi jeritan panjang yang tak hentihenti
membuat geraham bunga di telapakmu
tiba-tiba terbuka

“Betapa ingin aku loloskan matahari itu,”
kenangmu, “dari setiap gerak jantungku,
dari segala ketukan gelap yang menunggunya
di balik pintu.”

1994

Puisi: Matahari
Puisi: Matahari
Karya: Arif Bagus Prasetyo

Bacaan Menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar