Puisi: Momen (Karya Arif Bagus Prasetyo)

Puisi: Momen Karya: Arif Bagus Prasetyo
Momen

Bulatan plastik
meluncur deras
dekat kening kanak-kanak:
Adakah padanya rahasia kita
terjaga?

Hanya air yang mendesir
di bibir. Seteguk
dan seteguk lagi kauloloskan
lewat Selat
sebelum retak ini terbaca lagi
malam nanti
jadi parit kurus dangkal
yang menguning
lebih keruh
di separuh matamu.

Dan tidakkah kaudapati pelupukku tambah parah
mengunyahnya?
Serbuk sore berleleran pada lampu, bangku-bangku,
khianat waktu, lengking perempuan sial
yang mengudap di gaunmu dengan banal.
Semua berebut menyoraki jemarimu yang gemetar
menebar harum sajen
dan sebuah ciuman singkat
pada buket kematian.

Karena aku tak ingin ada
bila kamu tiada, keluhmu, walau tak pernah
kutanyakan untuk apa
kenapa aku nekat menerobos
celah langit
yang terbakar di kabinku
dengan wajah terbelah, perasaan sengit
menjadi-jadi dalam diri
dan bayangan gelas pasir menikam
kening batarimu!

Hanya saja, tak seperti permainan masa kanak kita, memang.
Kini aku pun ingin hening
menatapNya.

1995
Puisi: Momen
Puisi: Momen
Karya: Arif Bagus Prasetyo
© Sepenuhnya. All rights reserved.