Puisi: Desember Tak Bertanda

Desember Tak Bertanda

Ibu, bagaimana kuarungi selat yang semakin terkuak lebar itu,
kecipak ikan telah jelma gelombang angin menjadikan dirinya badai
perahu tinggallah sebilah papan lapuk dihempas ombak musim barat.

Laut jernih mendulang asalnya ke bumi terdalam
hanya air yang masih terasa asin lain tidak,
kemurkaan yang tak kudamba datang
meng-ijabah doa tak berharap.

Desember yang pernah kelu menyayat ingatan nan suram
membelah tubuh menuai luka.

Ya, Ibu Desember datang kembali seolah menghunjam menikam ingatan,
merobek mimpi jelma keperihan antara gelombang dan laut, ikan-ikan terkapar
perahu Nuh tak pernah datang menjemput kita.

Maut datang menyerbu, menjemput satu-satu
menimbun tubuh dalam lumpur
menghancurkan belulang.

Tinggallah nisan tak bernama
entah di rawa-rawa atau di sudut kota,
sejarah telah mencatatnya
peristiwa paling siksa.

Ya, Ibu, tak bertanda Desember kelabu itu
tiada mampu menguak takdir yang paling biru
walau sehasta gemeratakan membawa aba-aba.

Tidak! Tiada pertanda hidup atau mati
meski kemudian kita terkapar mati;
di tanah sendiri.

Keureutoe, 2011
Puisi: Desember Tak Bertanda
Puisi: Desember Tak Bertanda
Karya: Mahdi Idris

Baca Juga: Kumpulan Puisi Menyentuh Hati

0 Response to "Puisi: Desember Tak Bertanda"

Posting Komentar