Musim Kawin-Kawinan

biarkan orang-orang
mengingat masalalu
bersandar di tiang
dari rumah panggung
memandang kehijaun
kebun kopi dan lada
atau sekadar menikmati
musik sungai
yang kini hanya kenangan

bahkan di kota besar ini
yang cuma satu museum
tak lagi menyimpan
kenangan-kenangan itu
masakanak yang pecah
artefak telah retak
ibu kehilangan tutur
dan para remaja
bermandi cahaya...

biarkan mereka
bermain dengan angan
dan kenangan-kenangan
barangkali itu menyenangkan
meski juga menyengsarakan
sebab apatah nikmatnya
bercumbu bayang-bayang?

(sedang kota kita ini sudah tak memberi tanda lagi,
tiada yang mampu kaukenali, telah penuh
oleh warna-warna - sebagai kota yang akan
terus berbenah menjadi ribuan jalan,
ratusan hotel, relestat, mal, ruko, dan
taman-taman serta kolam renangnya…

lalu di mana akan kau letakkan masalalu
sebagai kenangan bahwa kau pernah
dilahirkan di sini dengan tumpahan
ketuban dan darah dan ariari
kemudian setiap malam
sepekan lamanya
dihidupi lampu sentir di tepi rumah?)

kota terus gerak dan berpindah
meninggalkan dan melupakan
masalalunya, kenangan-kenangan
menyenangkan: mainan
kanak-kanak, gobaksodor, engrang,
ataupun petak umpet
di bawah bulan bugil bulat

atau menuju perkebunan karet
memunguti biji-bijinya
lalu atas-bawah
dan bagian samping
dilubangi untuk kitiran
Dan bila musim kawin-kawinan
kita punguti biji-biji salak
kemudian dibuat cincin
untuk persembahan
pada mempelai perempuan

ah, biarlah mereka mengenang
ketika mencari pasangan
di saat menjaga damar
malam-malam perhelatan
sambil menulis dan
berkirim surat
di bawah remang api damar
yang bertahan hingga fajar

(tapi kota kota kini sudah melupakan
hutan damar, perkebunan sawit,
dan kenangan-kenangan percintaan.

hotel-hotel adalah hutan damar
yang menyediakan gemerlap
perkebunan sawit telah jadi kota pula
yang membuatmu bisa bertemu
pacar tiga kali lebih sehari....)

karena itu, biarkan orang-orang
itu mengenang masasilamnya


Wayheni 2003-2005 - bandarlampung 2005-2006
Puisi: Musim Kawin-Kawinan
Puisi: Musim Kawin-Kawinan
Karya: Isbedy Stiawan ZS

Baca Juga: Kumpulan Puisi Ajip Rosidi
Loading...

Post A Comment:

0 comments: