Unsyiah 1

Malam, sekira embun masih semangat berdatangan dari sebalik awan
Kami kehilangan timba
Saat gedung pendidikan kebanggaan diamuk merak merah
Di mana Rendra?

Subuh, sekira orang-orang sedang menikmati sahur
Kami tak selera puasa
Gedung putih kebanggaan rakyat kami sudah dimakan gelinjang bara
Kami hendak mengadu pada
Syeikh Aminuddin Abdurrauf bin Ali Al Fanshury As Singkily
Nisannya pun tapi kami tak lagi tanda

Darussalam, 11 Ramadhan 1429 H


Unsyiah 2

subuh
merah
pengap
bising
air
keringat
api
pecah
asap
o…
unsyiah
api membakar puncakmu!


Darussalam, 11 Ramadhan 1429 H


Unsyiah 3

Ayam belum berkokok
Jingga di puncak Unsyiah
Kala itu, subuh masih di barat
Orang-orang Darussalam sudah terjaga dari lelap
Memang bulan sedang puasa
Tapi sahur masih di pucak pengab
Entah siapa melepas merak
Sayapnya merekah di perabungan Unsyiah
Orang-orang Darussalam itu meloncat-loncat
Berdiri rapat tengadah muka
Lihat! Semakin besar semakin merah
Semakin ramai orang tengadah
Sedang pemadam kebakaran
Selalu datang setelah cinta kayu kepada arang tersampaikan
Setelah embun menerima cinta langit yang dititipkan lewat raja siang

Banda Aceh, September 2008


Unsyiah 4
(Rendra)

Kalau kaumasih punya waktu sekali saja sebelum mati
Datanglah ke Aceh jenguklah Unsyiah
Toreskan puisimu seperti dulu
Bukan di prasasti pondasi perdana
Tapi di sisa kayu yang masih berwujud bara
Lekaslah sebelum ia menjadi arang
Atau diuai angin menjadi abu
Besok pun, kami masih berpuasa.

Unsyiah, 11 September 2008
Puisi: Unsyiah
Puisi: Unsyiah
Karya: Herman RN

Baca Juga: Kumpulan Puisi tentang Kupu-kupu

Post A Comment:

0 comments: