Anjing Belang

Sering kami berjumpa di sini 
hampir setiap malam hari 
di malam kelam dan terang 
kalau aku pergi ke belakang 
mengambil air sembahyang 
dan dia mencari sisa-sisa yang terbuang 
di keranjang sampah dekat perigi.

Pernah dia terpijak 
dan aku terkejut melompat. 
Dia memekik kikik dan terus lari. 
Mungkin dai marah dan mengutuki 
sedang sekali-kali tidak kusengaja.
Timbul pertanyaan yang mengerikan dalam hati
– Siapa di antara kami yang paling dikasihi Ilahi?

Aku, ataukah anjing belang kerdil kecil ini 
dengan lidah yang meraba-raba sampah 
di atas tanah?

1950
Puisi: Anjing Belang
Puisi: Anjing Belang
Karya: Mahatmanto

Baca Juga: Puisi Karangan Bunga
Loading...

Post A Comment:

0 comments: