Fragmen Kehilangan

1
malam hampir mencapai titik pusatnya.
hari bergegas berganti nama. kau kehabisan
kata. napasmu satu satu. aku hanya bisa
memandangmu. tiba-tiba aku teringat
pohon-pohon yang kautanam di halaman
rumahku, dan kau minta aku menyiramnya
saban sore. nangka, jambu air, jambu batu, sawo
kecik, rambutan. aku memanggilmu. jarum jam
berkejaran. aku ingin mematahkan
jarum-jarum itu satu demi satu. ayat-ayat dan
tangisan bersilangan. bertabrakan. aku tahu
kau sedang berjuang keras. untuk menjawab
panggilanku. untuk membuka kelopak matamu.
di mana izrail kini berada. di muka pintu.
di langit-langit. di sisi jendela. atau di sebelahmu.
jika melihatnya, aku akan memintanya
datang lain kali. biasanya, saat ini
kau sedang tidur di lantai ruang tamu
berbantal peci lusuh kesayanganmu. dulu
kita selalu bersepeda bersama. menyusuri
perkampungan. singgah ke rumah kawan dan
kenalanmu. ceritakan lagi bagaimana rasanya
terjun dari hercules. ayo nyanyikan sebuah lagu
jepang untukku. kuku tanganmu ungu
satu-satu.

jam tangan dariku belum sempat kaupakai.
mungkin lebih baik kita makan nasi goreng
lalu minum coca-cola dingin, sambil ngobrol
tentang mobil impianmu yang nyangsang
di awang-awang. kaugenggam erat tanganku.
air mataku menetes bagai keran bocor. harapan
seperti balon gas terlepas dari genggaman.
terbang tinggi. menjauh. kurasa ayahmu
menunggu di luar. menjemputmu.
dengan ferari enzo merah atau porsche panamera
hitam. tentu dia tak henti-henti menekan klakson.
tak sabar menunggu kemunculanmu
di muka pintu. awal. akhir. berangkat. pulang.
buka. tutup. aku di sini. kau kehilangan kata.
kau tamu terbaik saat acara minum teh.
pembeli yang menyenangkan saat main pasaran.
aku memanggilmu. berkali-kali. namun kau
seperti rumah kosong yang memantulkan
kembali suaraku. mobilmu masih di bengkel.
kau kehabisan udara. selesai. kau telah selesai
berjuang. izrail telah menyelesaikan tugasnya.
kedua matamu tertutup. semua tertutup.
matamu. pikiranmu. hatimu. berhen. kau
terdiam. dalam sepi.
bagaimana aku harus percaya. ini hari terakhir
kita berbagi matahari. kabar kepergianmu
disiarkan dengan pelantam masjid setelah
azan subuh. mendengar namamu disebut dan
melihatmu terbujur aku merasa
ada yang mencabik-cabik di hatiku.

kau hanya diam. dengan tubuh sedingin lantai dan
dinding. aku akan menemanimu.
memandang wajahmu sepuas-puasnya. aku akan
mengantarmu pulang. sebagaimana dulu
kau selalu mengantarku ke mana pun dengan
gembira. tapi kali ini. bagaimana aku harus
mengantarmu dengan gembira.

2
aku telah membaca namamu, berikut tanggal
kedatangan dan kepulanganmu. tapi aku masih
mendengar suaramu. memanggilku. mengajakku
ke kebun. memetik daun singkong, tekokak, dan
bunga kecombrang. “nenek akan masak daun
singkong tumbuk kesukaanmu,” katamu.
berkali-kali kumasuki kamarmu, ruang tengah
tempat kau biasa menonton tv. beranda. dapur.
menyakitkan melihat daun-daun kelapa kering
yang kauikat dan kaususun rapi dekat tungku.
topimu yang tergantung murung. obat asam urat
yang terakhir kali kaubeli. di kebun, hanya tinggal
rumah panggung kecil yang kaubangun menjelang
ulang tahunmu yang terakhir. juga pohon-pohon
yang kautanam. kau seolah mempersiapkan
semuanya. menyiapkan bagaimana aku akan
mengenangmu.
tentu. kau seperti menyediakan pondok itu
untuk tempatku menangis
sambil memandang semua pohon yang kautanam.

3
kali ini. sungguh. toko-toko souvenir
begitu menyakitiku. entah berapa toko
yang kumasuki. semakin banyak toko
semakin sakit terasa. namun aku tak bisa berhenti.
memasuki toko demi toko. menyusuri rak
demi rak. meja demi meja. meneliti seluruh barang
yang tersusun di meja. terpaku pada barang-barang
yang digantung. sibuk dan bingung memilah-milah
jam, topi, pipa cangklong, cincin, ikat pinggang,
korek gas, kaca mata.
tiba-tiba aku teringat kau yang selalu duduk
di beranda menjelang senja.
dan kali ini. tak  ada yang bisa
kupilihkan untukmu dengan segala keriangan.
begitu menyakitkan tak bisa memilihkan
benda-benda itu untukmu. yang biasanya
akan kauterima dengan gembira dan
sedikit malu-malu. tak ada. tak ada yang bisa
kupilihkan untukmu. senja itu masih sama.
namun kau tak lagi duduk di beranda.

Jakarta, 2012
Puisi: Fragmen Kehilangan
Puisi: Fragmen Kehilangan
Karya: Nersalya Renata

Baca Juga: Puisi tentang Cita-cita
Loading...

Post A Comment:

0 comments: