Jejak

Dulu, setelah aku menemukan cahaya bola matamu
di kaki belantara, kau sebut bahwa kita adalah satu tubuh 
yang berbagi dua nyawa.
Kau katakan padaku; airmata telah menjadi
peri perindu jejak damai negeri raya ini.

Kini, kau enyahkan nyawaku ke dalam terompah
peninggalan Panglima Tibang,
Raja Bakoy, entah beberapa lagi
yang kau sebut saat itu
namun telah lenyap dalam deru nafas keperihanku.

Katamu; gemunung tinggi yang berjejer di sepanjang
negeri ini, siap kau tambang jelma ratusan ribu manyam emas
untuk kupinang seribu bidadari negeri antara.
Aku menganggukmu, tapi hanya sesaat
kutak menahu lagi jejakmu dibawa hembusan topan keangkuhanmu. 

Tanah Luas, 10 Mei 2010
Puisi: Jejak
Puisi: Jejak
Karya: Mahdi Idris

Baca Juga: Puisi tentang Laut
Loading...

Post A Comment:

0 comments: