Puisi: Kitab Pelarian (Karya Zen Hae)

Kitab Pelarian

tidurku masih disesaki kemarahan langit
sebelas malaikat menghardik-meludah di angkasa
: sawan bayi di kandungan, mendidih air di bendungan

empat puluh hari sehabis mimpiku, tuan hakim
kota tanpa pengiman itu akan luluh-lantak
bumi diremas langit diayak – awan serupa dedak

dan aku mencium maut dan aku menuju laut

di dasar laut – di perut seekor ikan besar
aku beriman dalam kegelapan pijar.
menulis selarik ayat
seirama degup perih jantungku. mengukir ketakutanku
pada dinding-dinding karang merah tua
kelak para penyelam, para pemburu hikayat
akan membaca pengakuanku:

“kenapa ia memilih si lemah hati sepertiku?
kenapa ia menitipkan kota tua padaku?”

sepuluh jari tanganku
tak cukup untuk sebuah kota
pun untuk seorang sahaya atau seekor ulat
aku hanya ingin menyendiri di pondokku – di timur kota
akan kutanam pohon paling rindang
dan kupiara beberapa ekor ternak

tapi mereka menangkapku pada suatu pagi
tapi apa gunanya kalian memintaku kembali?

“yunus, tuan layak marah sampai mati
sebab kota besar itu urung dihancurkan”

1993

Puisi: Kitab Pelarian
Puisi: Kitab Pelarian
Karya: Zen Hae

Baca Juga: Puisi tentang Demam
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar