Puisi: Sajak Malam Hari (Karya Frans Nadjira)

Sajak Malam Hari

Sulit kumengerti mengapa kau bersahabat
dengan kupu-kupu
Mengapa kau bubuhkan bubuk merica
ke dalam sajak-sajakku.     
Jika matahari terbit dari mulut burung-burung api
Ingin kuajak kau mengunyah remah angin 
Membenturkan kepala di tembok malam.


Tunggu aku di pulau tak bermusim itu
Pulau yang memiliki dua belas matahari.
Gunung-gunung kristal
Kucing Persia bermata biru sebening embun
Lelap di pangkuan anak-anak yang lahir di sayap peri.

Jika kau sempat, bawakan seikat mawar
Dari luka yang tak kunjung sembuh.
Dari tangis anak-anak di bulan yang tak kunjung muncul
Dari kelopak mata tanah berbercak darah
Dari kelopak mata debu yang menempel di daging bumi.

Kutulis sajak ini ketika malam mengeluhkan
Kerut-merut duka di dahi lembah-lembah.
Di alis sungai   
Ketika malam mengalirkan duka sungai cuka
Ke mulut laut tidur.

Kulihat tubuhmu terbaring di gerbang cahaya
Puri orang-orang suci
Gerbang arwah daun jati
Gerbang terbuka ke laut berwarna emas.

Kau bentangkan sayap-sayap elangmu
Menyebar di duka gelap yang sekarat Kau lupa namamu
Kau lupa jelaskan asal-usul misteri
segi tiga bintang-bintang.
Kau lupa memasang foto pengantin nama-nama anumerta
Kau lupa membeli  kado ulang tahun       
Buat pahlawan yang hilang                                                             
Di hutan-hutan sejuta matahari
Semilyar bulan dan bintang.

Kita lupa nama mereka Lupa lagu keramat kebangsaan
Lupa hari-hari bersejarah
Yang menarik bendera ke puncak tiang dekat awan
Terjemur di terik matahari hingga pucat warnanya.
Peti-peti pusaka yang tertidur di malam hari
Di kamar yang jarang dibersihkan
Bendera yang lelah dikejar mimpi buruk.

Bendera itu terbang di atas kuburan
Melewati hutan-hutan sejarah berlumut
Hutan berlumur sumba merah.
Ketika bulu-bulu sayapnya gugur
Ketika warnanya meleleh di buku-buku pelajaran.
Ketika gambarnya jadi pembungkus roti
Bobot tubuhnya hilang.

Langit menyedotnya lenyap di lobang hitam
Bersama benda-benda langit berbentuk bola plastik
Kaleng biscuit  Botol air mineral Kepala-kepala gorilla
Mirip kepala Darwin  Dia cari taman Eden di kegelapan.
Dia cari sungai bercabang empat
Pohon penyebab Adam dan Hawa berkelana di bumi.

Ketika sebuah meteor hitam menghantam tubuhnya
Dia terjengkang jatuh ke sebuah pulau yang tak terdaftar.
Bendera itu menjadi burung elang
Menjadi memar matahari
Menjadi jerit di rahim gunung Di rahim laut,

Kukira kau benar menyebut negeri ini sungai keruh
Tak bermuara Tak berhulu Seperti keris berkarat
Asap tanah beracun yang meluap
dari kawah-kawah gunung
Belerang berwarna kuning sengat matahari .

Jika kau pejamkan matamu
Kupu-kupu yang kau cintai
Berubah jadi kembang anyelir 
Yang mekar sepanjang tahun.
Jarum jam jadi pepohonan Jadi denyut waktu
Tirai kabut terbentang menutupi samudera luas
Yang memetik harpa di malam dingin.

Laut ini ganas, bergelora karena mimpimu
Melepas kuda-kuda mustang dari perut bumi
Perut kita yang selalu dilewati petir subuh hari.
Hidup kebebasan!
Hidup pertemuan!
Hidup perpisahan!
Dari mana kau tahu bahwa matahari terikat
pada pikiran-pikiran baik?
Cahaya apa yang memancar dari makam orang-orang suci?

Airkah yang suci? Debukah yang suci?
Kitakah ciptaan suci itu?
Wajah pohon di sebuah taman juga suci
Berkilau seperti jiwa-jiwa rumput
Membelah dirinya jadi kilat di sebalik gunung.
Betapa kurus pun tubuhmu
Hidup memberimu makna
Isteri berdada sekeras fossil tembaga.

Ketika kau berniat untuk menciptakan bumi
dari bilik-bilik kaca
Jendela-jendela zamrut Pintu-pintu nilakandi
Tempat kijang-kijang kencana menyanyikan lagu-lagu kudus
Angin menyibakkan tirai jendela
Menyimak perdebatan sengit tentang kesucian laut
dan gunung
Upacara ritual insomnia di malam-malam berkabut.

Kita percaya bahwa manusia tidak pernah sendiri
Kita paham silau ngeri Gamang Tersesat
Di antara dua bangunan raksasa Nyata dan tak nyata.
Kita mengurai jalan-jalan kusut penampilan lahiriah
Monumen pahlawan yang dipaksa termangu di tengah jalan.
Monumen nama-nama manusia
Hangus terpental Tercabik oleh keyakinan
Yang meledak di sebuah restoran.
Restoran api Restoran serpihan daging.

Kita kehilangan diri di antara nama-nama
Yang tampak memudar Kusam oleh asap.
Ironi mengiris tipis tubuhku hingga ke tulang
Segaris cahaya tipis di langit
Melakukan kunjungan incognito
Ke lereng-lereng sepi pegunungan.

Tak mudah bagiku melepas topeng
Yang melekat di wajahku sejak lahir.
Ketika aku bertemu laut, aku jatuh cinta.
Aku hidup penuh harapan
Meluap seperti doa-doa yang melesat ke luar angkasa.
Sialan.
Sungguh menjengkelkan ketika astronaut Amerika
dan Rusia melambaikan tangan ke doa-doaku
Di antariksa yang sunyi.

Aku menyusun bintang-bintang
Sendiri gemetar ketika suara-suara aneh
Terperosok masuk ke lubang hitam.
Tak ada jejak bendera yang telah kehilangan sayap
Tak  kutemukan bekas tubuh meteor
Serpihan tubuhku serta semua nama-nama in memoriam
Yang diukir tinta emas di monumen marmer
Mandi kembang setiap tahun.

Hanya cintanya kepadamu
Yang menggairahkan puing-puing hidupnya.
Dia tak malu pada refleks-refleks cinta
Kutuk yang selalu membenamkan pisau ke ulu hati.
Cinta yang selalu bergerak Selalu risau pada rindu
Cinta berjalan, bicara sambil tidur.

Injeksi phenol tak mampu mematikannya.
Dia menggeliat di kursi listrik
Mencari seseorang yang membawanya menyeberangi batas
Antara hidup dan mati.
Lampu-lampu kapal Cahaya yang tak padam dalam badai.
Di bawah lengkung awan hitam
Laut dan darat menggigil kedinginan.

Kota berselimut iklan Pamflet-pamflet Keringat asam
Kardus bekas jatuh ke selokan di dasi politikus.
Tikus-tikus kurapan berlari ke luar selokan.
Dasi, dahi, tahi, kata-kata apakah itu?
Siapa yang menulis kata-kata apak itu
di pintu kamar tidurku?
Ayo, mengaku!
Jika tidak, akan kujebak kau dengan perangkap tikus.
Kau tahu arti poli-tikus?  
Kata itu terpenggal tubuhnya
Karena antara kepala dan hati tidak sejalan
Karena hati dan tangan memainkan lagu yang berbeda.
Kita berjalan di malam hari
Berbicara kepada cuaca yang tidak bersahabat.
Menanti datangnya fajar
Membaca puisi “Lagu Cinta J. Alfred Prufrock” karya T.S. Eliot.

Cukup bagimu jika dia membiarkan rambutnya
Terurai hingga ke bahu
Kau tak perlu melihatnya dari sisi yang lain.
Bunga liar yang tumbuh di hutan-hutan purba
Wangi air dari sumber sumur tua dengus sungai
Hasrat danau yang meluap.      Sarang laba-laba
Serangga warna berayun di awal hujan.
Berayun mabuk Semaput seperti lebah jantan
Yang kembali dari perjalanan jauh.

Sepasang mata menatapmu Pucat seputih varigata
Di halaman depan naga hujan.
Kaum tani papa menampung air hujan
di ladang-ladang mereka.
Pesta katak dalam irama yang dikenal bebatuan
Paduan suara yang akrab
Di telinga penghuni semak dan rerumputan.
Maka ketika kau terlena di atas tumpukan jerami kering
Kau biarkan dia memberikan senyumnya
Kepada maut yang kau sebut harapan.
     
Kau orang yang tidak pernah kehilangan keyakinan
Kepala Budha dari lilin berwarna merah
Patung Kwan Im kecil dari porselain murah di atas meja.
Meja seorang bebal yang mudah menitikkan air mata.
Karena keras hati.
Kau yakin dapat menemukan penginapan sederhana
Yang kau cari di sebalik meja.
Rumah penginapan dengan kolam kecil
Ikan koi, jentik nyamuk, anak katak.
Pemiliknya seorang perempuan muda
Penghayal, setia mengunjungi kekasihnya di neraka
Membantunya menyalakan rokok di bara api
Yang menghanguskan tulang-tulang
Kembali jadi abu halus.

Hari-hari bergerak jatuh ke dalam kolam
Seruling cahaya di mata ikan 
Kaki-kaki halus milik ganggang Berhias sepanjang hari.
Teratai dengan lentik jemarinya
Jari manis berhias safir biru bulu merak
Ruby darah burung merpati.
Begitulah wajah cantik tercipta
Berseri di permukaan air jernih.

Sore hari jika cuaca cerah
Terdengar desir lembut sarung sutera
Sebuah kereta memasuki halaman berkerikil kecil.
Permukaan air berkerut oleh angin Kegenitan daun teratai.
Sesungguhnya tidak satu pun yang perlu dicemaskan
Masa tua adalah gambar wajah dengan arang
Di tembok kotor jalan tembus bawah tanah.
                                                    
Perempuan itu menciptakan teratai putih dari air matanya
Dia menutupi rasa cemasnya dengan
ujung baju burung-burung.
Aroma daun gugur Ranting-ranting pohon kemuning
menggayut menyentuh tanah
Bayi-bayi lahir bergelayut di dada ibunya.
Kepak burung hantu   Malam menyerap kepak hening
pohon bambu di pinggir sungai.
Kita rindu mendengar suara-suara yang tak terdengar
Kita ingin jatuh cinta pada seorang gadis yang lain
Berbaring di bawah pohon
Bercakap-cakap dengan akar yang melingkar seperti ular
Belang seperti kulit harimau, gambus tanduk rusa.

Bergantian mengecup bibir naga
Yang turun di hari raya Imlek
Awal musim semi Di saat yang sama
Seorang anak terkapar di tanah
Ia memeluk boneka Angry Birdnya.
Apa kata kita kepadanya?
Lidah kita melilit seperti pohon sirih hitam
Suara kita beku di depan pintu crematorium.
Suara ledakan Suara desis asap Desah daging
Kita menjadi asap 
Mengunjungi arwah sahabat
Duduk bergerombol di trotoar pasar
Seperti serangga hitam
Mengunyah semua yang dapat dikunyah,

Dentang genta senja hari
Menyeberangi air bah yang mengalir deras
Tak ada bahtera Nuh Tak ada yang menanti
Matahari meniup pluit
Hanya ada jeritan hampa ke udara.
Saat itu tiba Sesuatu menggelegak Sesuatu menggelepar
Kaki-kaki  hewan berpasangan  Saling seruduk
Mencari pijakan tangga pertama naik ke bahtera
yang tak pernah ada.
Siapa yang sanggup Siapa yang tak sanggup?
Kita bangun dari mimpi dengan kepala hampa
Dada terasa dingin Elang bermata tajam
Terbang berputar di atas kepala kita
Di angkasa yang tak henti batuk
Memutar roda-roda besi yang berat.

Maka suara-suara purba liar
Melecut halilintar agar cepat mengirim singa-singa
Lidah getir ular yang bercabang.
Prasangka hewan-hewan  Kekuatan yang saling bertentangan
Mengamuk di hati kita Duduk di kedalaman malam
Ketakutan naïf seekor kadal
Kekuataan gaib tempat kita berbaring Mengunyah tembakau
Tak hirau penanggalan adonan manusia.

Tempat ini pilihan kita. Kita humus untuk tanah
Terbang ke langit luas Langit hyena
Langit burung-burung kolibri Langit kita Makam kita.
Mari,
Baringkan tubuh di tanah hangat ini
Ini tanah kita Tempat pilihan kita Warisan kita.

Puisi: Sajak Malam Hari
Puisi: Sajak Malam Hari
Karya: Frans Nadjira

Baca Juga: Puisi Serenada Biru
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar