Puisi Frans Nadjira

Puisi: Selamat Jalan I Gusti Nyoman Lempad (Karya Frans Nadjira)

Selamat Jalan I Gusti Nyoman Lempad Untuk kali terakhir kata menjengukmu karena kata cuma milikku: " Selamat jalan, batu paras …

Puisi: Sungai Mississippi (Karya Frans Nadjira)

Sungai Mississippi (1) "Mesin, berikan kartu nasibku hari ini" kataku sejam lalu sewaktu menekan tombol sebuah kotak Tapi…

Puisi: Musium (Karya Frans Nadjira)

Musium Pada rak ke dua Lemari museum terletak tengkorak. Jalan menganga di mata lobang hidung. Burung-burung bersarang da…

Puisi: Kereta Terakhir (Karya Frans Nadjira)

Kereta Terakhir Kita membuat persiapan dan kita pun mengarahkan pandang ke diri sendiri. Dua anak, seekor anjing menunggu k…

Puisi: Sajak Bonsai Memandang Pagi (Karya Frans Nadjira)

S ajak Bonsai Memandang Pagi Jadi apa makna bercak darah? Tirai tembus pandang bergetar dalam cahaya ketika dingin menyentuh kemilau embun. …

Puisi: Teh Gingseng (Karya Frans Nadjira)

Teh Gingseng Sebelum minum kuceritakan khasiat khusus teh ginseng Kutanggalkan  tulang  igaku jadi pinggul menggeliat di…

Puisi: Sajak Kampuchea (Karya Frans Nadjira)

Sajak Kampuchea Satu garis lagi Selesailah gambar mata air ini Di mana pintu gua yang sering kumasuki ketika Masa kanakku? Jal…

Puisi: Barnett Newman, Siapa yang Takut pada Warna? (Karya Frans Nadjira)

Barnett Newman, Siapa yang Takut pada Warna? Dengan sekali sentakan tulisan di tembok kusam subway melar seperti permen karet: " …

Puisi: Di Bawah Sulur Jaring Laba-Laba (Karya Frans Nadjira)

Di Bawah Sulur Jaring Laba-Laba kami bukan milik siapa pun… Berapa lama aku berbaring di bawah untaian benang-…
© Sepenuhnya. All rights reserved.