Puisi: Garis Ladang (Karya Esha Tegar Putra)

Garis Ladang

di ladang kita berpandang, bersahutan suara, saling berebut
tali puisi. ladangku rumpang ladangmu lempang. hah,
jadinya aku cuma bertanam rumput gajah. biar dijarah
perempuan malang yang di pinggangnya terselip sebilah sabit
(aku tahu ia bakal merambahnya secara diam-diam bila
seminggu saja aku tak berkunjung ke ladang) sebab matamu
merah apel, dan di sini aku tak bisa membibitnya. tapi bakal
kusayat dalam perih, kuiris dengan tajam. sebab jemarimu
telah biasa menujah pucuk kopi dan kulit manis
di tiap musim bertukar

dalam manis tebu, dalam pahit empedu, di mana garis
ladang bakal bertemu dengan lagu yang menandakan
dinginnya suara gunung? orang kata cuma di silungkang
tempat bertenun adalah mengasah waktu, tempat perempuan
berparas kelabu dan senyum yang makin batu. di sanalah
cerita dingin yang teramat dijahitkan. dengan benang ragu

tapi bukankah di air lembah, dingin juga menujah? biarlah
lurah bersuara tentang puisi yang direbut malang. tentang
peristiwa sunsang, peristiwa yang berlainan perut, peristiwa
yang saling menikamkan usus. dan semua itu berupa tali puisi
yang dipintal secara pasi, dengan tangan masih disusup gabuk
aku jadi si peragu, jadi gugu, di lambungku tertanak batu. sebab
kita dua ladang yang bersahutan garang. dan cuma di puisi
beradu suara. sebab matamu merah apel dan aku telah
bertanam rumput gajah. mengingat ulah seorang perempuan
yang di pinggangnya terselip sebilah sabit. tapi tak apalah,
tali puisi bakal memanjang
biar diulur dan ditarik setiap kali bersahut diri.

Kandangpadati, 2008
Puisi: Garis Ladang
Puisi: Garis Ladang
Karya: Esha Tegar Putra

Baca Juga: Puisi Hujan Rendra
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar