Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Layar Sepanjang Pantai (Karya Alizar Tanjung)

|
Layar Sepanjang Pantai
: Dodi dan Silvia, Ampiang Parak

Anak-anak layar ke pantai. Jejak-jejak di pantai. Telapak telanjang. Anak-anak berbuka baju. Berlari menuju pantai. Pasir-pasir dijalani. Kerikil kecil sepanjang pesirir. Bapak mereka menarik pukat. Gelombang datang dari laut. Gelombang menghempas tubuh. Gelombang membawa ikan. Tubuh mereka penuh asin. Tubuh mereka terbakar api, api matahari, api dari langit. Tubuh mereka hangus hitam. Anak-anak menarik pukat. Anak-anak menolong bapak mereka. Mereka tidak sekolah. Sekolah harga-harga ikan, kerang laut, cumi-cumi, cangkang siput, kepiting pasir.

Anak-anak layar menarik pukat, menarik jala di laut. Ikan dari laut. Bapak-bapak mereka mengikat tali di badan, tarik kiri tarik kanan, kain diikat di pinggang. Pelan-pelan jauh ke luar pesisir. Ikan berkurung dalam pukat paling sempit. Ikan besar terkatung. Bibir ikan menjuntai-juntai. Sisip ikan mengipas-ngipas. Nafas ikan berkejar-kejar, hilang. Anak-anak memegang ikan.

Perempuan dari darat membeli ikan. Nelayan membuka bajunya. Perempuan-perempuan berebut ikan. Ikan-ikan salai, maco, tuna. Entah apalagi. Perempuan-perempuan membuka kantong plastik. Ikan masuk kantong. anak-anak layar membantu mengeluarkan ikan dari kurungan pukat. Pukat kembali di puntar di pesisir. Ikan-ikan kecil dibiarkan menggelepar-gelepar di pasir.

Bapak-bapak mereka kembali ke laut, pukat ditebar. Anak-anak layar menunggu pagi, siang, sore. Sekolah-sekolah adalah pagi, siang, sore, jejak pasir, ikan, laut, harga ikan, rumah-rumah kayu, sampan-sampan lapuk, pukat, ember, uang jual ikan.

Padang, Januari 2011

Puisi: Layar Sepanjang Pantai
Puisi: Layar Sepanjang Pantai
Karya: Alizar Tanjung

Bacaan Menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.