Puisi: Aroma Maut (Karya Hamid Jabbar)

Puisi "Aroma Maut" mengajak pembaca untuk menyadari keterbatasan pengetahuan manusia dalam memahami hakikat kehidupan dan kematian.
Aroma Maut

Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?
Barangkali satu denyut lepas, o satu denyut lepas
tepat di saat tak jelas Batas-batas, sayangku:
Segalanya terhempas, o segalanya terhempas!

(Laut masih berombak, gelombangnya entah ke mana.
Angin masih berhembus, topannya entah ke mana.
Bumi masih beredar, getarnya sampai ke mana?
Semesta masih belantara, sunyi sendiri ke mana?)

Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?
Barangkali hilir-mudik di suatu titik
tumpang-tindih merintih dalam satu nadi, sayangku:
Sampai tetes embun pun selesai, tak menitik!

(Gelombang lain datang begitu lain.
Topan lain datang begitu lain.
Gelap lain datang begitu lain.
Sunyi lain begitu datang sendiri tak bisa lain!)


Padang, 1977/1978

Sumber: Wajah Kita (1981)

Analisis Puisi:
Puisi "Aroma Maut" karya Hamid Jabbar merupakan sebuah refleksi mendalam tentang keterbatasan manusia dalam memahami makna hidup dan kematian. Dengan menggunakan bahasa yang metaforis dan simbolis, Hamid Jabbar menyampaikan pesan-pesan filosofis tentang eksistensi dan takdir manusia.

Keterbatasan Manusia dalam Memahami Batas Hidup dan Mati: Puisi ini menggambarkan kebingungan manusia akan batas antara hidup dan mati. Dengan mengulang pertanyaan "Berapakah jarak antara hidup dan mati," puisi mencerminkan ketidakmampuan manusia untuk memahami secara pasti perbedaan antara hidup dan mati. Hal ini tercermin dalam penggambaran "satu denyut lepas" yang mengindikasikan betapa tipisnya batas antara keduanya.

Kehidupan dan Kematian sebagai Realitas Abadi: Hamid Jabbar menyoroti keabadian alam semesta dan keberlanjutannya meskipun manusia hidup dan mati. Penggambaran laut yang terus berombak, angin yang terus berhembus, dan bumi yang terus beredar menunjukkan bahwa kehidupan manusia hanyalah sebagian kecil dari keberadaan yang lebih besar.

Keberagaman Pengalaman dan Takdir: Puisi ini juga menyoroti keragaman pengalaman manusia dalam menghadapi hidup dan kematian. Gelombang, topan, gelap, dan sunyi digambarkan sebagai pengalaman yang berbeda-beda bagi setiap individu. Hal ini mencerminkan kompleksitas takdir dan pengalaman manusia di dunia yang penuh dengan misteri.

Konklusi tentang Keterbatasan Pengetahuan: Dengan menggunakan bahasa yang puitis dan imajinatif, Hamid Jabbar menunjukkan bahwa meskipun manusia terus mencari pemahaman tentang hidup dan mati, mereka akan tetap dihadapkan pada keterbatasan pengetahuan dan pemahaman. Kehidupan dan kematian tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan.

Puisi "Aroma Maut" adalah sebuah karya yang menantang pembaca untuk merenungkan makna eksistensi manusia di alam semesta yang luas dan penuh misteri. Dengan menggunakan bahasa yang mendalam dan simbolis, Hamid Jabbar mengajak pembaca untuk menyadari keterbatasan pengetahuan manusia dalam memahami hakikat kehidupan dan kematian.

Puisi: Aroma Maut
Puisi: Aroma Maut
Karya: Hamid Jabbar

Biodata Hamid Jabbar
  • Hamid Jabbar (nama lengkap Abdul Hamid bin Zainal Abidin bin Abdul Jabbar) lahir 27 Juli 1949, di Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatra Barat.
  • Hamid Jabbar meninggal dunia pada tanggal 29 Mei 2004.
© Sepenuhnya. All rights reserved.