Guguran Kenangan

Di ujung malam itu, kau sadari hidupmu
tinggal sepenggal sepi. Lepas dari jemari hari yang letih
dan pasi. Pada sebuah cermin sepasang mata rusuh
menyelundup ke dalam hatimu: Ada yang mengalir lambat
dan tenang di situ. Seperti perjalanan sungai musim
kemarau, menuju tempat yang asing. Yang tak pernah kau
kenal. Barangkali laut. Tetapi laut terlalu luas dan gagah bagi airmata
yang jatuh dan menggenang di atas sehelai kertas, tanpa tulisan
apa pun. Meninggalkan cuma jejak samar. Seorang pertapa

menemukannya di bawah tong sampah di ujung jalan. Diubahnya
jadi kapal udara dan diterbangkannya tinggi
ke angkasa. Kapal itu melesat cepat layaknya pesawat
tempur dan jatuh ke sungai sempit (menjadi rakit dengan bentuk
yang aneh) jauh di masa silam. Kau kenang kembali anak perempuan
berambut berombak-ombak yang berlari lincah dan kerap berhenti
di sembarang tepi sungai itu; melemparkan batu-batu sebesar gundu
dan kepalan tangan boneka beruang ke permukaan
sungai yang mengalir lamban. Percikan-percikan air menyentuh
betisnya yang telanjang. Gemas dan riang kau cubit pipi berlesung
anak itu. Diam-diam hatimu didera rasa takut kehilangan
gelak tawanya yang lepas. Entah kenapa,

tiba-tiba kau begitu membenci seekor kodok
di atas batu. Barangkali mukanya yang buruk mengingatkanmu
pada si cebol jahat, yang gemar menculik
anak-anak. Tak kau jawab pertanyaannya tentang mengapa katak
berjalan melompat-lompat. Pagi menjemputmu lebih cepat
dari biasanya. Diam-diam hatimu semakin cemas kehilangan gelak
tawanya yang lepas. Kau kenang kembali anak perempuan yang berlari
lincah sepanjang sungai itu. Sinar matahari berebut menerobos
jendela kamar, terjebak lantai marmar. Segera kau sadari
hidupmu tinggal separuh sepi. Tanpa suara,

kenangan berguguran ke dalam batinmu.

1992-1999
Puisi Guguran Kenangan
Puisi: Guguran Kenangan
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi Pendek buat Status FB

Post A Comment:

0 comments: