Jaka Tarub

Tentu, itu bukan taman. Pagarnya telah patah-patah
— pagar bambu tua lusuh dengan cat yang mengelupas. Saksi
bagi banyak peristiwa. Juga bagi duka. Tak ada Mawar

di sana, begitu pula Anggrek dan Melati. Di sudut diam letih
bekas batang pohon kertas. Dulu banyak bunganya. Di sudut itu
pun ada bekas kolam. Sekarang tak ada airnya.

Pernah kolam itu menjadi tempat bermain yang menyenangkan.
Bagi ikan-ikan mas dan mujair. Dulu, selagi penuh airnya, sering aku
membayangkan diriku menjadi liliput. Bersama semut-semut

mengarungi kolam itu. Bersampan daun-daun.
Segalanya tumbuh di sana begitu saja. Bergantung pada angin
dan musim. Tentu, itu bukan kebun bunga. Meskipun tumbuh

Anyelir di tengah-tengahnya. Warnanya semburat kuning.
Bagai warna layung. Mereka bagai puteri yang tersesat.
Di hutan lebat. Sayang kolamnya tak ada airnya. Jika ada,

mereka tentu mandi di sana. Sekuntum Anyelir
kupetik tadi pagi. Kusimpan di jembangan
bunga. Kelak ia bakal pulang ke negeri asalnya. Entah di mana.

Seperti Jaka Tarub, aku kembali sendiri.

1991-1999
Puisi Jaka Tarub
Puisi: Jaka Tarub
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi Indonesia Instagram

Post A Comment:

0 comments: