Jejak Alif

menempuh hari, gagap enigma memapah cahaya. menelusup ke pori tubuh, waktu tercacah dan terus tumbuh. namun alif terus saja tegak di sana, berdiri lurus menujah lidah matahari. mengerat keramaian kota atau sunyi yang menghunus hati para durjana. rindu mengapung. suara azan di ceruk masjid. bergumul dalam kerumun langkah. memasuki usia di kepala orang-orang. menuang pecahan-pecahan kaca di cangkir gelas. dan meminumnya bersama dalam suatu karnaval. merayakan kecemasan. tapi alif terus saja melangkah, tidak tergesa dan sendiri. menempuh jazirah yang berkawah. meskipun kota bising mengurungnya. di sudut-sudut yang telah lama kehilangan arwah dan cahaya.

bertahun-tahun.

Poris Plawad, 2016
Puisi Jejak Alif
Puisi: Jejak Alif
Karya: Alex R. Nainggolan

Baca Juga: Puisi untuk Indonesia Merdeka

Post A Comment:

0 comments: