Kenang-Kenangan

Bagaimana harus kuucapkan pengakuan ini: Aku jatuh cinta berulangkali pada matamu, danau dalam hutan di negeri ajaib yang jauh menyelusup dalam ingatan itu. Berabad-abad yang lalu, kuucapkan selamat tinggal pada apa pun yang berbau dongeng, atau masa silam. Tetapi cinta, bukan sebotol coca cola. Atau film Disney; di sana tokoh apa pun tak pernah mati. Juga bukan Rumi yang menari. Sebab pada matamu bertemu semua musim, sejarah, dan sesuatu yang mengingatkan aku pada suatu hari ketika waktu berhenti, dan kusapa engkau

Mesra sekali. Kini, bahkan wajahmu samar kuingat kembali. Haruskah kuucapkan pengakuan ini: Aku jatuh cinta berulangkali pada matamu, danau dalam hutan di negeri ajaib yang jauh menyelusup dalam ingatan itu. Tetapi cinta, bukan sekotak popok kertas. Atau sayap sembilan puluh sembilan burung Attar yang terbakar. Cinta,

barangkali, kegagapanku mengecup sepasang alismu

1994
Puisi Kenang-Kenangan
Puisi: Kenang-Kenangan
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Post A Comment:

0 comments: