Kepada Gus Dur

mendadak kau datang sendiri
di jalan pandanaran ii/10 semarang*)
mengucapkan salam dan bercerita tentang demokrasi
sehabis perjalanan darat jakarta-semarang

 “saya tak tidur semalaman,” katamu
ada kantuk bergayut di matamu
tapi kau tetap bersemangat bicara
kadang serius, kadang bercanda

aku ingat janjimu bikin tulisan
untuk dikirimkan ke koran wawasan
namun sampai kau jadi kepala negara
aku hanya bisa menunggu sia-sia

“jangan cemas,” katamu tiba-tiba
tubuhmu lelah bersandar di sofa
“saya pasti akan menuliskannya
meski sibuk pimpin nahdlatul ulama”

 kehadiranmu pagi itu sungguh kehormatan
memang tak ada jejak di sana 
tapi bagaimana mungkin aku melupakan?
bersamamu hidup terasa begitu berwarna

2020

                                                 
*) Gus Dur berkunjung ke Kantor Redaksi Koran Wawasan di Jalan Pandanaran II/10 Semarang pada tahun 1992. Dengan semakin maraknya sektarianisme membuat empat puluh intelektual yang berasal dari kelompok dan agama membentuk suatu forum yang membela demokrasi dan pluralisme. Hal tersebut terwujud pada 1991.  Mereka mendirikan Forum Demokrasi dan Gus Dur dipilih sebagai ketua dan juru bicara. Kehadiran Gus Dur di Semarang saat itu untuk menjelaskan dan memasyarakatkan forum tersebut.
Puisi Kepada Gus Dur
Puisi: Kepada Gus Dur
Karya: Gunoto Saparie

GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.

Foto Gunoto Saparie 2020

Selain menulis puisi, juga mencipta cerita pendek, novel, esai, kritik sastra, dan artikel/opini berbagai masalah kebudayaan, pendidikan, agama, ekonomi, dan keuangan.

Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).

Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah.

Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.

Post A Comment:

0 comments: