Mempelaiku

Sejak penciptaan itu, dalam hati kutetapkan
mempelaiku. Tak henti mencarinya meski kutahu ia
mengalir dalam jalan darahku: Aku ingin katakan padanya,
aku mencintainya. Sayang, sejak lama aku tak lagi percaya
pada kata-kata. Ia pun kukekalkan dalam ingatan
dengan berbagai nama. Pernahkah engkau lihat mawar
yang tumbuh dari airmata? Keriangan yang lahir
dari kesempurnaan duka? Dalam hati telah kutetapkan
ia jadi mempelaiku. Tak ada kekuasaan apa pun

dapat merenggutnya dariku. Perjalanan mencarinya
melampaui sejarah di luar tubuhku: Hingga kutemukan
sorga yang pernah hilang itu. Juga ibu
segala pohon firdaus itu. Kukembalikan buah
kehidupan pada separuh rantingnya yang menangis
sepanjang zaman mampu mengingatnya. Mempelaiku,
melompat keluar dari hatiku. Kukecup keningnya. Kusapa
dengan nama kecilnya. Kubiarkan ia menjauh

menyeka airmatanya.

1995-1999
Puisi Mempelaiku
Puisi: Mempelaiku
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi Ibu Facebook

Post A Comment:

0 comments: