Puisi: Negara Bangun (Karya Walujati)

Negara Bangun

(I)

Bagai kesuma putih, tersebar wangi atas lautan daun hijau,
Jauh tercium harumnya, dibawa pergi angin yang lalu,
terserak terletak di tengah-tengah samudra biru –
padam sebuah rangkaian pulau-pulau –

Tenang-sabar tampaklah ia dalam buih-gelombang tiap zaman,
yang datang dan pergi, tiap kali membawa
perubahan hawa-suasana; tetap tenang
dibiarkannya masa menekan jiwanya:

Ibarat gunung membiru tampak di cakrawala,
Selalu diam tenang, membiarkan hujan
dan angin menyiksa lerengnya, suatu kala
'kan pecah-meletus, memuntahkan

api dan batu panas membakar Alam;
Demikian pula pulau-pulau berangkai ini
Suatu ketika pasti membual-memuntahkan
api sial dan batu-batu tekanan jiwa ...

(II)

Kawan, dalam asap hitam-mengepul dan
kepanasan hawa kemana-mana di sekelilingnya,
amat bingung dan bimbang orang mencari pegangan
teguh dan kokoh 'kan penguat jalan hidupnya.

Bagaimana orang dapat kiranya arahkan
langkahnya menuju tujuan yang hendak dicapai,
'pabila dasar-pangkalnya telah luput-hilang
ditelan gelombang perubahan berderai ramai?

Akh,

Seperti kelana tersesat di hutan raya
berjalan putus-asa
tiba-tiba sampai ke jurang menghitam dalam dan tak dapat kembali,
karena malam gelap sudah datang,

berjalan orang dibawa arus manusia lainnya,
sebingung-sebimbang, ke arah yang tidak dikenalnya,
sampai tiba di jurang perbedaan faham-fikiran,
dan tak dapat kembali ke pangkal permulaan

(III)

Jangan, jangan kau sesali hilangnya adat lama,
berabad-abad dipakai masyarakat bangsa kita,
hingga berakar hitam-keras, menjalar lebar
di bawah muka bumi, hingga sebagai sangkar

mengurung tanah subur di sekeliling batang
pohonnya, kuat berdiri menahan siksaan –
deritaan zaman berpuluh tahun, menghiasi
taman peradaban timur di tanah kita diami

Kau tangisi pohon-pohon indah ini,
direbahkan taufan pergerakan
jiwa-jiwa rakyat berjuta, yang kini
hendak mendirikan taman peradaban

yang baru dan muda. – Lihatlah,
batang-batang pohon yang rebah:
kuat tampaknya, tapi t'lah kosong dalamnya,
tau-kaku-mati- tak ada harkatnya.

Jangan, jangan kau sesali hilangnya adat lama
Taman, yang kita dirikan, kan lebih berharga

(IV)

Tiap pagi, di kala naik sinar merah di sebelah Barat
Langit Fajar, kulihat tanaman bunga melur
berdaun hijau padam, kehilangan banyak
bunga terserak wangi, putih membujur

Kiranya angin kuat menyiksa tangkai
halus tiada berdaya dan gugur-lepaslah
bunga-bunga dan kuntum, menjadi bangkai
putih-harum tersebar di atas tanah ...

Dan ingatlah aku 'kan jiwa-jiwa
muda-belia, belum sampai umur dewasa,
gugur melepaskan nafas penghabisan. –
Jatuhlah air mataku, tak dapat kutahan

(V)

Kitapun insaf, hai Ibu, yang duduk meratap di atas makam
anakmu tunggal, jatuh di tengah-tengah asap mesiu
dan suara peluru, tak berhenti-henti berdesing lalu,
jatuh ke atas bumi, merah diwarnai badan berdarah;

Kitapun insaf, pengorbananmu jauh lebih
berat; siksaan jiwamu lebih dahsyat daripada
korban anakmu kepada Negara, sebab ia pergi rela;
Dibawa El Maut, tampak ia tersenyum masih

Ibarat orang yang pergi dengan kapal ke arah negri
Jauh dan asing, penuh harapan dan
muka berseri. Sedang yang tinggal di pangkalan
sedih-menangis, merasa tempat kosong di dalam hati ...

(VI)

Jangan rakyatku, janganlah kausalahkan tindak laku
orang-orang di atasmu, arif-bijaksana
memimpin engkau dan negerimu menuju
idaman hati, berabad-abad tersimpan di dada

Turunkan seg'ra lengan teracung menantang
Lepaskan jarimu kuat terkepal
Lambatkan suara, parau keluar mulut lancang
Redakan taufan amarah di hati mengkal. –

Arus merdeka, baru-baru kita rasakan,
Sekuat apapun, tak'kan membawa
Manfaat suatu, 'pabila ta'ada
Pimpinan yang pandai mengalirkan

arus kuat menurut saluran-saluran,
digali orang dengan cakap-saksama,
melalui sawah kering menantikan
datangnya air membawa hidup padanya

Dan tak lama lagi, dengarlah Rakyatku
gamelan datang, ditabuh orang bersama
Lihatlah lautan padi kuning di hadapanmu
Itu, rakyatku, pesta panen negara ...

(VII)

Demikianlah pohon tua kaku, setengah mati,
bertahun-tahun terjerat di hutan tanaman
asing, tumbuh rapat meng'lilingi batang,
telah hidup berdaun muda kembali

Alangkah megah tampak ia berdiri;
Lebar tebal mahkota daun atas batangnya
Berdiri aku berkhidmat di bawahnya
dan doa melintas di dalam hati. –

"Lindungilah Tuhan, hasil perjuangan rakyatku
Lindungilah hasil, direbut darah badan beribu-ribu"

Di cakrawala tampak langit pelahan menghitam
Kecut hatiku melihat Surya tertutup awan
Akan datangkah hujan menyegarkan Pohonku ini
Ataukah halilintar turun membawa mati?

Berdiri aku berkhidmat
dan doa melintas di dalam hati ...

1950
Puisi: Negara Bangun
Puisi: Negara Bangun
Karya: Walujati

Catatan:
  • Nama Sastrawati sebelum menikah: Louise Walujati Hatmoharsoio.
  • Nama Sastrawati setelah menikah: Walujati Supangat.
  • Edjaan Tempoe Doeloe: Walujati.
  • Ejaan yang Disempurnakan (EyD): Waluyati.


    Baca Juga: Puisi Terbaik yang Pernah Ada

    0 Response to "Puisi: Negara Bangun (Karya Walujati)"

    Posting Komentar

    close