Nyanyian Tanah Kelahiran

Bom Bagan
Di zaman sebelum perang
Empat puluh empat anak tangganya
Sayup mata memandang

Berdiri di ujung ketika petang
Angin selat Melaka masih segar
Mengirimkan aroma ikan dan udang
Dari bangsal dan pelantar
Jauh di seberang
Antara kaki langit dan lidah bergelombang
Ada cahaya menyibak langit malam

Bila air timpas
Perahu nelayan berleret bagai dalam lukisan
Di tengah arung
Lampu jermal kerlap-kerlip kedinginan

Di pangkal bom
Melintang jalan perdagangan
Antara gudang
Toko
Dan pusat perkantoran
Ada pajak kios batu berpetak-petak
Di sebuah hailam
Tempat aku makan rujak Ucin
Atau mi rebus Alibab
Dan menghirup kopi Ling
Sambil membaca surat Ah Hwa
Ai Cing

(Datanglah ke gang kecil
di sebelah rumah Bin Bie Can
Aku ingin berbincang
Tapi hati-hati
Bangsa kita baru saja selesai perang)

Selalu aku menggigil
rindu ke zaman itu
Bila pulang
Dan melintas jalan perdagangan
Ketika menoleh ke kiri
Bom itu tak nampak lagi

Wahai
Bertahun-tahun pasang datang
Meninggalkan bom kami empat kilometer
Dari bibir lautan

Lalu segalanya berubah
Segalanya telah raib ditelan zaman
Segalanya
Dendang nelayan tak terdengar lagi
Karena seribu sungai
Seribu teluk
Telat tumpat
Dan di atasnya hutan tumbuh melebat
Tak lagi tampak cahaya kota di tanah seberang
Yang menyibak langit ketika petang
Kecuali kini
Cahaya kunang-kunang yang malap
Beterbangan di celah-celah pohon berembang

Pajak kios batu berpetak-petak
Tak lagi sebising dulu
Kini sepi dan penuh lalat
Di depannya seribu becak menunggu
Penariknya kawan-kawan masa kanakku

Wahai
Semuanya terasa asing kini
masuk ke hailam
Kupilih meja paling pojok
Kuminta kopi o
Tak ada lagi yang kumakan
Tak ada lagi yang kubaca
Tak ada
Selain sepi

Karena Ucin sudah tiada
Alibab juga
Ah Hwa entah di mana
Syakdiah entah di mana
Syamsiah entah di mana
Ain entah di mana
Hartati entah di mana
Ayahbundaku entah di mana
Tanah kelahiranku entah di mana
Semuanya entah di mana

Keluar Hailam
Melintas jalan perdagangan
Malam telah jatuh
Aku kembali ke hotel
Sebelum tidur
Aku merasakan sesuatu yang asing
Dan semakin asing

1984
Puisi Nyanyian Tanah Kelahiran
Puisi: Nyanyian Tanah Kelahiran
Karya: Ediruslan PE Amanriza

Baca Juga: Contoh Puisi Bertema NKRI Harga Mati

Post A Comment:

0 comments: