Puisi: Potong Bebek Angsa (Karya Hamid Jabbar)

Potong Bebek Angsa

Tanpa pisau, seseorang bernyanyi: "Potong bebek angsa ..."
Pinggulnya bergoyang bagai bebek pulang petang.
Orang-orang bergendang dan bebek-bebek berdansa:
"Dansa saban hari sampai sakit pinggang..."

Tetapi kegawatan selalu saja datang ke negeri ini.
Musim panas yang keras begitu kering-kerontang.
Sawah jadi kuburan, pematang jadi batu nisan; sunyi.
Hanya tikus-tikus yang terus berdansa sampai kejang.

Di manakah kucing? Kucing mengeong dalam karung berdebu.
Karung? Ya, karung yang memakan habis semua mentimun itu.
Mentimun? Ya, mentimun yang meninabobokkan para kancil itu.
Kancil? Nah, kancillah yang bernyanyi: "Potong bebek angsa" itu.

Tetapi kegawatan selalu saja menerjang rimba belantara ini
Bila kancil kehilangan akal dan tak sempat lagi bernyanyi.
Saat itulah harimau mengaum dan serigala menerkam.
Sementara buaya menganga sambil tidur-tiduran.

Di manakah pawang-pawang kita yang penuh wibawa dan jantan?
Mereka telah jadi bebek, siap dipotong sambil berdansa-dansa:
"Sikat ke kiri sikat ke kanan sampai mabok segala perhitungan..."
Ya, sampai mati pingsan segala taman margasatwa di kota-kota.

1977
Puisi: Potong Bebek Angsa
Puisi: Potong Bebek Angsa
Karya: Hamid Jabbar

Baca Juga: Story WA Puisi Pagi

0 Response to "Puisi: Potong Bebek Angsa (Karya Hamid Jabbar)"

Posting Komentar

close