Puisi: Tidak Ada Lagi Praha yang Harus Dipertahankan Karya: Cecep Syamsul Hari
Tidak Ada Lagi Praha yang Harus Dipertahankan

Empat puluh tahun kemudian
hanya ada karangan bunga
separuh kuning separuh jingga
diletakkan di atas tanah

….

Musim semi Jan Zajíc dan Jan Palach

Tidak ada serdadu dan peluru yang datang menyerbu
tidak ada palu dan arit yang mengancam
tidak ada satu pun kamerad yang meludah
di atas tanah Golem dan para peziarah

Tidak ada lagi Praha yang harus dipertahankan

Patung-patung kuda melompat ke angkasa
trem-trem merah memburu gadis-gadis berlidah tembaga
domba-domba gundul berbaju kuning menabuh gendang
berlari dan bernyanyi riang di jalan-jalan

Memanggil-manggil sang gembala Hare Krsna

Di sudut sebuah pintu masuk kereta bawah tanah
tiang salib melintang di antara dua puting mawar
dan lonceng gereja berdentang di dalam lubang pusar
seorang perempuan murung berbaju hitam

Di bagian mana kota ini kekasihku sedang menunggu?

Harimau besi mengaum dalam hutan jiwaku
lentur tulang punggungnya melengkung
sepasang matanya menyapu rimba perburuan
siap menerkam tubuh harum seekor kijang

József Attila, jangan dulu pulang ke Buda,
tinggallah denganku beberapa hari di sini!

Di depan monumen dua Jan
serumpun daun tumbuh di bahu pasangan renta
kursi-kursi taman jauh lebih kekal dari para penguasa
musim semi melampaui jarum jam abadi semua mimpi

Aku menangis, dan jatuh cinta pada kota ini.

Praha, 2009
Puisi Tidak Ada Lagi Praha yang Harus Dipertahankan
Puisi: Tidak Ada Lagi Praha yang Harus Dipertahankan
Karya: Cecep Syamsul Hari

Baca Juga: Puisi Guruku Pelitaku

Post A Comment:

0 comments: