Getah Malam

(I)

Kuhisapi udara malam sebab ia bagian dari kehidupan
Lampu-lampu pijar jalan panjang kesibukan orang dan kendaraan
Tulang dan jiwa di sini bersatu, kehidupan daging dan cita
Kusukai cinta di malam sunyi sebab suatu pengharapan
Juga cinta di malam gelisah sebab suatu perpisahan

(II)

Malam bertemu di Pasar Baru kemesuman di pojok jalan
Dan bintang tersawang tinggi, kebulatan cita dan pengharapan
Terpagut mata pada bayangan senja malam besi tua
- serupa si tua bangka membungkuk di ujung usianya
Keharuan ditimba dari air kali yang lesi dan gang sendat di perapatan
Atau karena suara lonceng gereja, adzan Thuan diserukan

(III)

Terbaring di tikar Senen dalam pijitan tertawan rabaan perempuan
Sedap ditingkah kecewa antara kehidupan remaja dan bayangan hari tua
Keampuhan malam bergantungan pada rumah-rumah lama Tionghoa
Kegelisahannya melekat pada jalan rumah makan dan tempat dansa
Di sini kehidupan cuma daging dan tulang
Namun di celah klenteng tua kakek mendoa dan sembahyang

(IV)

Sekarang hujan, kita tidak berpayung apa pula jas hujan
- serupa kesediaan yang tak sedia terhadap suatu peperangan
berteduh di emper jalanan, yang lain di bawah jembatan
Kita tidak berumah
Kita tak bertempat tinggal

1955
Puisi: Getah Malam
Puisi: Getah Malam
Karya: Dodong Djiwapradja
    Catatan:
    • Dodong Djiwapradja lahir di Banyuresmi, Garut, Jawa Barat, pada tanggal 25 September 1928.
    • Dodong Djiwapradja meninggal dunia pada tanggal 23 Juli 2009.
    Baca Juga: Puisi Cinta Perpisahan

    Post A Comment:

    0 comments: