Puisi: Ketika Bulan Mengambang di Angan

Ketika Bulan Mengambang di Angan
(Dongeng buat Athar dan Nabil)

Diam-diam, seperti enggan, angin mengendap perlahan, membelai dedaunan akasia sembari mendesah dan berbisik kepada reranting nyiur yang bergoyang, melambai ke arah langit biru yang semburat kehitaman, sementara di kejauhan awan putih berarak tenang melenggang.

"Ada bulan mengambang, ada bulan mengambang di awan, abang. Bulat keemasan merajai langit hitam. Bisakah kita terbang sebelum parak siang menjelang? Bermain bola bersama bulan dan bintang gemintang."

"Lihatlah adik, lihat, bulan purbani di temaram malam. Tenang dan pelan ia berlayar di antara gumpalan dan serpihan awan. Siapa gerangan yang mengemudikannya? Lihatlah, bayang-bayang Eyang melenggang di sana."

Bulan bulat keemasan berlayar, mengambang tenang dan pelan. Semesta terasa senyap, semua terdiam. Tiada lagi dedaunan bergoyang, tiada lagi angin bersijingkat mengendap-endap, berbisik dan mendesah seolah enggan. Serpih awan putih menyebar di latar langit biru kehitaman.

"Kita terbang sekarang, abang."
"Jangan adik, bulan dan bintang segera bertandang."
"Kita berlayar di awan kehitaman, abang."
"Tidak adik, kita akan berlayar, mengambang di angan."
"Mengambang di angan, abang?"
"Mengambang di angan, mengambang di angan....".

Jakarta, 17-24 April 2009
Puisi: Ketika Bulan Mengambang di Angan
Puisi: Ketika Bulan Mengambang di Angan
Karya: Budiman S. Hartoyo
    Catatan:
    • Budiman S. Hartoyo tergolong sebagai penyair Angkatan '66.
    • Budiman S. Hartoyo lahir di Solo, tanggal 5 Desember 1938.
    • Budiman S. Hartoyo meninggal dunia tanggal 11 Maret 2010.

    Baca Juga: Puisi Terindah tentang Rindu

    0 Response to "Puisi: Ketika Bulan Mengambang di Angan"

    Posting Komentar