Menantang Monas

Susur nenek-nenek terjatuh
masuk kali.
Gagasan bagus
mengembarigkan teknologi.
Tetapi di desaku,
baterai adalah puncak kemajuan
zaman ini.
Di atas kepala
mengembara.
Penganggur-penganggur.
Tuban banjir,
Gresik banjir.
Tetapi kenapa
Kang Atmo gembira.
Main gitar di jagalan Solo
Ngadiman
Arek Wonogiri uro-uro di teras rumah.
Lagu Bengawan Solo
mendapat tepukan di Jepang.
Siapa ikut melongok etalase.
Bonekamu montok-montok
menawarkan. Di tengah lapangan bola.
Clinton jatuh hidup Clinton.
Koran pagi. Koran siang. Koran sore.
Malam ngomel sendiri.
Di atas meja-meja kursi-kursi
di atas lantai, tong sampah,
lumayan bungkus nasi,
melipat barang import.
Kickers atau Adidas
merk bule kuli pribumi.
Dan ingat yang paling perawan
menantang Monas!
Sanjunglah
cacing-cacing
Bocah-bocah Sarayevo menang.
Mengintip lubang meriam malam hari.
Mencari di dapur tersedia
granat dan sedikit makanan
sisa kemarin. Adah panasnya siang.
Jasad menggelepar di
tengah lapangan.

Jakarta 1993, 1996, 1999, 2000.
Puisi: Menantang Monas
Puisi: Menantang Monas
Karya: Slamet Sukirnanto
    Catatan:
    • Slamet Sukirnanto lahir di Solo pada tanggal 3 Maret 1941.
    • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
    • Slamet Sukirnanto adalah salah satu sastrawan angkatan 1966

    Baca Juga: Sajak karya Budiman S. Hartoyo

    Post A Comment:

    0 comments: