Merapi

(1)

Kau
Isyaratkan penanda purba
Di puncak
Bergulung bagai ombak
Beribu domba hitam
Berlari dari magma
Gemuruh tanpa kata

Itu bahasa semesta
Rahasia yang terjaga
Tapi manusia harus membaca
Dengan nama Allah Sang Maha Pencipta
Sebab Adam diberi nama-nama
Semua benda di langit dan di bumi
Agar bisa bersyukur

(2)

Aku
Mau bilang apa?
Tak ada yang pasti
Hanya takut
Gentar: menghindar

Selamatkan yang dicinta
Selamatkan yang masih bisa
Menunda duka
Hingga hari itu tiba

(3)

Tak cukup abu dan pasir
Pun kilat dan petir
Pijarkan langit malam
Jadi lansekap magis:
Dan pohon menjulang

Apakah itu
Pohon buruk
Yang dilukiskan Al-Qur’an:
Tercabut seakarnya
Dari muka bumi
Takkan tegak lagi?

Apakah itu
Pohon kayu dari Thursina
Zaitun penghasil minyak
Bagi obat dan penyedap makan?

Apakah itu
Pohon bagi pena
Yang takkan bisa menuliskan
Semua kalimat Allah?

Apakah itu
Pohon Atsl dan Sidr
Yang buahnya sepahit azab?

Ataukah itu
Pohon Zaqqum
Siksaan bagi yang zalim
Tumbuh dari dasar neraka Jahim
Bermayang bak kepala syaitan-syaitan
Makanan para pendosa
Bercampur air sangat panas
Dan kotoran minyak
Mendidih di perut?

Ataukah itu
Pohon bidara surga
Yang tidak berduri batangnya
dan tidak terlarang buahnya?

(4)

Pohon itu menembus
Batas cakrawala
Menuju biru
Dengan gas dan abu
Melukis imaji
Angsa putih
Dalam buih
Dan kapas-kapas
Melayang
Bagaikan jiwa-jiwa
Tanpa kendali
Mengambang
Di angin

(5)

Angsa itu
Kini sihir hitam
Langit pun cemar
Oleh tikam
Maut kelam
Bagai topeng bungkam
Dengan rambut gimbal
Menderu
Bersicepat
Dengan kibas
Awan panas

(6)

Tapi, mereka tak cukup gegas
Ketika senja
Memunggungi desa
Melangkahkan usia
Menuju gelap
Abai pada isyarat
Atau sudah terima
Tutup telinga dan mata

Maut pun mengendap
Di tingkap gelap
Kehidupan lindap
Dalam siluet
Berbisik dia pada asap
Dari tungku purba
Tentang duka-cita
Tentang api murka

Angin pun tengkurap
Mendengar deru
Yang hampir sayu
Dari semua pohon
Dari semua daun
Yang hilang embun

Berbisik dia kepada lembah:
“Sebuah bencana,
sesuai rencana,
dan mereka tak kuasa...”

(7)

Batu dan pasir
Batu jadi pasir
Pasir jadi abu
Udara jadi batu

Entah berkata apa mereka
Partikel-partikel yang menari di angin
Kepada cahaya
Dan warna jingga
Dan para penunggang sepeda
Para pengendara aneka moda
Di desa-desa dan kota
Yang tak lagi bebas bicara

(Tentang “new fashion”?
Tentang lipstik dan plastik?)

Tinggal mata yang bisa berkata
Kepada alis dan bulumata
Bahwa hidung dan paru
Kini dalam bahaya

(8)

Lihat saja di Djogja
Di sekitar Tugu itu penanda
Lintas sakral spiritual
Antara kawula dan Gusti
Antara raja dan Puncak Merapi
Kisah kasih dalam misteri
Terhubung dalam semedi
Percakapan batin tingkat tinggi

Abu turun bagai salju
Melekat pada kaca dan baju
Bapak, anak, dan juga ibu
Semua diburu
Aspal kelabu

(9)

Lihat wajahku!
Abu jadi pupur
Lumpur jadi lulur
Kabar bikin kabur

Cemas dan lelah lari ke muka
Derita terbawa ke mana-mana
Kain dan selendang lingkarkan duka

Tapi mereka tak bisa jauh
Jarak tidak bermakna
Bahaya hanya kata
Leluhur terus memanggil

“Apa pun yang terjadi,” kata sang ibu,
“Aku harus pulang, nduk
Untuk hidup
Untuk mati

Cinta kita hanya bisa
Tumbuh di sana
Dalam lumpur
Dalam kubur
Nyalakan lagi motormu!”

(10)

Oh...?!
Semua jadi abu-abu
Hanya sedikit putih
Dan hijau tumpas
Takluk pada lahar

Apakah masih ada warna
Bagi panorama?
Apakah masih ada nafas
Bagi kehidupan?

Di mana unggas dan serangga
Dan hewan luka
Dan keluarga manusia?

Rumah-rumah bagai kubur
Beku
Layu
Angin mati
Hampa

(11)

Ini kasut
Tertangkap abu
Lepas kaki
Dari jejak
Segera lacak
Pemilik lenyap

Apakah Tuan
Terkubur dalam
Atau lari ke selatan
Kepada merah tanah
Kepada hijau daun
- “Masih ada?”

Ini kasut tak bernama
Nomor tak terbaca
Alamat tak tercatat
Tapi sejarah ia punya:
Kisah artefak sepasang
Untuk abad mendatang

(12)

Masih ada
Masih ada
Beberapa helai
Daun dan tangkai
Di ladang kelabu
Jagung yang kelu
Harapan layu

Tak akan ada panen
Hanya lunglai
Sejauh pandang
Hingga ke ujung

Tak ada lagi batas
Antara ruang
Harta dan jiwa
Antara waktu
Hidup dan mati

Abu-abu
Terhampar
Semua arah
Terdampar

(13)

Tinggal puing
Dahan, ranting
Sungai kering
Awan panas

Ada hijau
Dalam sunyi
Tunggu api
Dari Merapi

Yang mengalir seakan berhenti
Yang bergerak seakan terjerat
Yang membubung hanya abu
Tujuan-tujuan tersimpang
Arah berganti
Tumpuk di hulu
Kusut di hilir

Di mana mata air?

(14)

Kau cari mata air?
Atau air mata?

Tanah Jawa
Hilang tawa
Banyak raga
Hilang nyawa

Air mata di mana-mana
Mengalir tanpa batas akhir

Hingga hidup mata air
Hingga sungai henti kering
Hingga jernih mata angin
Hingga bibit punya semai
Hingga desa kembali ke tanah
Hingga arah kembali ke peta
Hingga waktu kembali ke wuku

(Tapi ini padang lumpur
Perlu waktu sepuluh tahun
Dan sejuta cangkul
Semangat dan kesabaran
Untuk mengolah harapan
Untuk menanam kehidupan
Berdenyut lagi)

Kau punya langkah pertama?

(15)

Sebatang bambu dan kabel
Melintang di jalan
Dan rumah-rumah
Memberi isyarat kematian

(Juga khayal menakutkan:
Di belakang rumah
Hantu dan zombie
Bangkit dari kubur
Berlumpur)

Kau punya langkah pertama?

Bukan untuk tangkap makhluk gentayangan
Selamatkan sisa kehidupan dan harapan
Singkirkan perintang
Hubungkan kembali desa dengan dunia
Untuk dukungan pasca-bencana

Tapi jangan bicara waktu
Waktu sudah berhenti
Ruang sudah terbakar
Dalam kuasa lahar

Hanya semesta ketuhanan
Pemilik segala makna
Yang bisa menjelaskan
Peristiwa dunia dan nasib manusia

(16)

Tak perlu perdebatan
Ini peristiwa ketuhanan atau kemanusiaan
Penyelamatan harus dilakukan
Atas nama kehidupan
Atas nama kualitas peradaban
Tolong-menolong adalah perintah
Semua agama langit dan bumi

Korban mati harus dikuburkan
Dengan martabat
Korban luka harus disembuhkan
Dengan obat

Kita bicara tentang dunia
Sebab dunia bicara tentang kita
Sebuah bangsa
Di antara bangsa-bangsa
Yang terus terkena bencana
Yang tak juga belajar mengatasi bencana
Secara benar dan terencana

Entah apa kata mereka
Tentang para pemimpin kita
Yang gagap dan lamban bergerak
Tiap kali bencana tiba
Padahal bencana akan selalu tiba
Karena negeri kita berada di garis api
Karena negeri kita berada di lempeng yang bergejolak

(17)

Keluarga yang mengungsi
Kerja besar sudah menanti
Debu mengubur hingga ke dapur
Gelas piring harus dicuci
Kompor dan wajan harus berfungsi
Kehidupan harus dimulai
Dimulai dari awal lagi

Tapi awal dan akhir
Sukar dikalkulasi
Manusia tak punya kendali
Segala tak pasti
Tak ada kecuali

(18)

Jika terlambat
Tak ada yang selamat
Jika cekat
Masih ada yang manfaat

Maka unggas
Berhenti mengepak gerak
Maka sepeda
Berhenti kayuh pada anak
Maka payung rusak
Berhenti teduh pada langkah

Hari pun mati
Di depan rumah

(19)

Abu dan awan panas
Begitu ganas
Mematikan semua benda
Menghentikan semua kehidupan
Berita dan hiburan pun leleh
Kata-kata dan nada
Serta-merta mengabadikan duka
Pada frekuensi magma
Pada radius 15 kilometer
Dari puncak bencana

(20)

Bencana mematikan!
Mengepung
Menghadang
Menghanguskan

Horor yang sempurna!

Air mata kita
Hilang basah
Kerongkongan tersekat
Dada rasa sesak
Duka tiada tara

Kita rasa abu
Rapuh tak berdaya
Di kaki Alam
Di kaki Waktu
Di kaki Maut
Kuasa Ajal!

Kita rasa hanya daging
Yang kelak kering
Kita rasa hanya tulang
Yang kelak tegang

Kita tak punya wenang
Hanya punya nafas
Di bingkai umur
Hanya bisa gerak
Di batas bugar
Selebihnya hanya debu

Kita hanya bebas
Tinggalkan jejak
Hidup yang lurus
Akhlak yang mulia
Dan selalu bersyukur

Jika terlambat
Tak ada jejak tercetak
Namun semua tetap dicatat
Hingga akhirat

(21)

Hewan yang terluka
Membangkitkan rasa iba

Tapi kita manusia
Bukan hewan ternak
Untuk dimakan atau angkut beban

Manusia lebih mulia
Di antara semua makhluk Tuhan
Tapi sering lebih hina
Daripada binatang ternak
Tapi sering lebih disembelih
Daripada hewan kurban
Karena politik yang lalim
Karena keyakinan yang buta
Karena syahwat
Karena takut

(22)

Tumpas sudah
Hutan di bukit
Jadi arang
Bertumbang

Binasa sudah
Satu habitat
Segenap makhluk
Hingga yang renik

Terbakar sudah
Satu situs di bumi
Dalam keniscayaan
Siklus purba

Tak ada yang sia-sia
Dalam kamus Allah
Semua bertujuan
Dalam rahasia-Nya

(23)

Tak satu manusia
Bisa membaca rahasia-Nya
Juga tentang para bocah itu
Nasib apa yang harus mereka jalani
Setelah pengungsian ini

Kita pun tak bisa menaksir
Ukuran pakaian bertimbun itu
Yang putih, merah, dan biru
Pas bagi siapa?

Kita hanya lihat warna
Dan keserabutan
Kita hanya bisa menerka
Dan tidak mendapat jawaban

Kepastian dan keteraturan
Hanya milik Sang Maha Pencipta
Kecerobohan dan kesemberonoan
Hanya milik manusia yang bodoh

(24)

Jadilah!
Maka terjadilah...
Dalam gelap
Pagi buta
Pijar menyembur langit
Dengan bara paling api
Terbangkan lahar dan abu

Dedaun pun terpekik
Gemetar
Oleh sihir magma
Dari kedalaman bumi
Bumi segala akar
Akar segala hayat

Embun pun surut
Kembali ke uap
Lenyap
Sebelum subuh tiba

(25)

Langit gempar
Angin menyambar
Menyebarkan uap panas
Ke wilayah lebih luas

(“Maut yang indah!”)

(26)

Lihat!

Malaikat berpayung merah!
Kaki rapat bertekuk
Tubuhnya pijar
Kuning dan merah

Ia melayang
Di atas laut kapas
Karpet awan
Lembut menghampar

Bukan!

Itu sungai lahar
Menembus
Membelah gunung

Dan awan merah
Terbang melayang
Ke arah kita

Iqra!

(27)

Ini gairah merah!
Rekah merekah
Api menjilat
Lahar meleleh

Mount orgasm!

Bagai janin raksasa
Dalam kisah wayang
Menggeliat marah
Dalam proses yang sungsang
Kelahiran raksasa
Pemangsa nyawa
: Batara Kala!

(28)

Darahnya membakar hutan
Taringnya memakan korban

Larikan! Larikan!

Sejauh langkah
Membawa beban
Sepanjang nafas
Menembus rongga

Dada sesak
Udara kering
Panas
Abu

Oksigen! Oksigen!

(29)

Kepastian pun tiba
Korban tewas
Satu, dua, terus jatuh
Beratus terbilang

Para relawan berjuang
Tembus rintangan
Takut dan gamang
Siang dan malam

Mereka relakan
Tenaga dan jiwa
Untuk mereka
Entah siapa

Medan berat
Ruang sempit
Waktu abu
Jarak pandak
Pilihan cuma satu:
Atau dia
Atau aku
Di atas semuanya
:Tuhan

(30)

Tuhan
Kau sudah pulangkan mereka
Dengan cara-Mu

Tangan itu
Mungkin ingin mencapai-Mu
Hingga nafas penghabisan
Dan Kau tak tergapai
Tak akan tergapai!

Kami percaya
Bahkan sehelai daun
Jatuh di tengah malam
Hanya atas kehendak-Mu

Tuhan
Ampuni mereka
Ampuni juga kami
Tangan kami lebih kotor dari mereka...

(31)

Innalillahi wa innailaihi roji’un...

Allah memegang jiwa manusia ketika tidurnya
Allah memegang jiwa manusia ketika matinya
Allah menjadikan manusia dari tanah
Allah mengembalikan manusia ke tanah
Allah menciptakan bumi
Sebagai tempat berkumpul
Manusia yang hidup dan yang mati

Itulah sebaik-baik tempat kembali.

Bekasi, 27 November 2010
Puisi: Merapi
Puisi: Merapi
Karya: Yudhistira A.N.M. Massardi


Catatan:
  • Yudhistira ANM Massardi mempunyai nama lengkap Yudhistira Andi Noegraha Moelyana Massardi.
  • Orangtua Yudhistira ANM Massardi bernama Massardi dan Mukinah.
  • Yudhistira ANM Massardi lahir di Karanganyar, Subang, Jawa Barat tanggal 28 Februari 1954.
Baca Juga: Guest Post for Free

Post A Comment:

0 comments: