Puisi: Munajat Seorang Nenek Menjelang Akhir Hayat

Munajat Seorang Nenek
Menjelang Akhir Hayat
(Ziarah untuk Bunda Labuhan Cinta
: Sitti Bashirah)

Hamba hanyalah perempuan desa Wonorejo yang rimbun dengan tetumbuhan menghijau. Maka kiranya maklumilah jika hamba terlalu hijau dalam pergaulan karna tak pernah makan sekolahan, suntuk seharian dalam pingitan. Hamba bahkan tak pernah belajar shalat dengan benar apalagi mengaji, kecuali membatik sesekali, atau di malam hari yang sepi mendendangkan sekar lagu-lagu Jawa. Itupun cuma semisal Dandanggula.

Kini dalam usia hamba yang semakin renta, dalam kebodohan pengetahuan agama, bolehkah hamba mohon kepada-Mu kelak bisa berbaring istirahat di sudut paling belakang sorga-Mu? Ah, mungkinkah Engkau mendengar munajat seorang perempuan desa yang butahuruf, yang bahkan melafazkan asma-Mu pun tertatih-tatih tak pernah fasih?

Hamba sudah berusaha belajar mengaji, itupun lantaran suami yang santri. Hampir setiap malam hamba menderas Kitab Suci-Mu dengan susah payah, dengan suara parau terbatuk dan tersengal, dengan tajwid ala kadarnya, dengan kacamata tak pernah diganti sejak hamba menikah usia sangat belia.

Hamba sudah berusaha shalat makmum suami sebaik-baiknya; menyisihkan waktu untuk shalat dhuha di tengah kecapaian mencuci setumpuk pakaian anak-anak hamba; menyibak paksa setan kantuk di ujung malam untuk shalat tahajud meski letih lesu seharian tak tertahankan. Hamba pun sungguh mengerti kewajiban berzakat dan berqurban, tapi apalah yang bisa hamba zakati dan qurbankan?

Kini, dalam usia hamba yang renta, dalam kebodohan akan pengetahuan agama, bolehkah hamba mohon kepada-Mu kelak berbaring istirahat di sudut paling belakang sorga-Mu? Ah, mungkinkah Engkau mendengar munajat seorang perempuan desa yang butahuruf, yang bahkan melafazkan asma-Mu pun tertatih-tatih tak pernah fasih?

Inilah hamba-Mu, perempuan desa yang dungu, yang berusaha sebisa-bisanya senantiasa patuh berharap dan taat membuta dalam mencintai-Mu. Inilah hamba-Mu, yang senantiasa merindukan izin dan berkah-Mu, kelak ya Rabbi, kiranya boleh sekedar mengintip sesudut belakang keindahan sorga-Mu...

Puisi: Munajat Seorang Nenek Menjelang Akhir Hayat
Puisi: Munajat Seorang Nenek Menjelang Akhir Hayat
Karya: Budiman S. Hartoyo
    Catatan:
    • Budiman S. Hartoyo tergolong sebagai penyair Angkatan '66.
    • Budiman S. Hartoyo lahir di Solo, tanggal 5 Desember 1938.
    • Budiman S. Hartoyo meninggal dunia tanggal 11 Maret 2010.

    Baca Juga: Puisi Senyuman Terindah

    0 Response to "Puisi: Munajat Seorang Nenek Menjelang Akhir Hayat"

    Posting Komentar